Semua misteri itu bermula dari platform video berbagi Tik
Tok yang menguak misteri sebuah akun yang ternyata dijalankan oleh sesosok
makhluk astral berwujud pocong yang menghantui Tika. Ia nyaris gila dengan
teror pocong yang menghantuinya setiap hari, tanpa jeda.
................
Nama ku Tika, aku adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi
di Yogyakarta. Aku tinggal bersama kedua orangtua ku disebuah rumah mungil di daerah
di Yogyakarta yang terkenal dengan udaranya yang sejuk, pemandangannya yang
indah dengan latar Gunung Merapi. Disitulah aku dilahirkan hingga menjadi
remaja seperti saat ini.
Selain kuliah, aku memiliki kegemaran baru yaitu bermain
TikTok, banyak video ku yang viral karena konten yang aku buat lebih
menonjolkan keindahan pariwisata di Yogyakarta sehingga banyak yang tertarik,
akun TikTok ku bahkan diikuti oleh ribuan follower yang antusias dengan obyek
wisata di kota ku.
Tiap video yang ku unggah, selalu berhasil menembus
algoritma TikTok untuk ditampilkan di laman For You, #FYP yang beberapa
diantaranya sempat viral saat aku menceritakan sebuah lokasi obyek wisata di
Yogyakarta yang membuat siapapun seolah sedang berada di negeri di atas awan.
Sampai pada suatu ketika...
Entah kenapa malam itu, aku tidak bisa tidur, padahal jam di
dinding kamar sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, tapi tetap saja mata ini
tak mau diajak beristirahat. Iseng, aku pun membuka akun TikTok untuk sekedar
mencari hiburan.
Ku buka beberapa konten video dari kreator yang aku sukai,
sampai ketika aplikasi itu menampilkan laman For You, beberapa video yang hanya
menawarkan tema tertentu sengaja aku skip, karena terlalu membosankan apalagi
isu tentang Covid-19 dari orang-orang yang menganggap bahwa virus ini hanya rekayasa
semata.
Sampai ketika aku menemukan sebuan konten yang hanya
menampilkan seorang remaja perempuan yang mungkin seusia dengan ku. Ia terlihat
duduk di sebuah rumah, lebih tepatnya di sebuah lorong yang sangat gelap.
Dari sela-sela rambutnya yang kusut masai, wajahnya terlihat
pucat, tidak terlalu jelas. Ia hanya diam, tak ada suara apapun termasuk suara
latar seperti yang biasa aku sisipkan di tiap konten yang ku buat, membuat ku
kian penasaran, dengan nuansanya yang gelap.
Saat itu perasaan ku campur aduk, menegangkan sekaligus
menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Di menit-menit terakhir entah kenapa
video itu, tiba-tiba berubah menjadi gelap dengan sebuah suara perempuan di
dalam video yang terdengar seperti terbata-bata dan tidak terlalu jelas,
to..lo.ng.
Rasa penasaran Tika kian menjadi, ia menajamkan pandangannya
pada video itu, sampai muncul sebuah siluet menyerupai mulut yang terus
mengucapkan kata-kata seperti meminta pertolongan yang diucapkan terbata-bata,
selanjutnya video itu terhenti.
Sejurus kemudian, Tika hanya tersenyum tipis meski sedetik
sebelumnya, jantungnya serasa mau copot saat melihat konten itu.
Ia memuji kreativitas si pembuat konten yang dianggap mampu
menghadirkan kesan horor yang sangat nyata kepada siapapun yang melihatnya. Tak
terasa, sudah satu jam lebih Tika menikmati berbagai konten yang ada di TikTok,
hingga matanya mulai berat.
Udara pagi yang dingin menusuk, membuat Tika harus memeluk
erat guling yang ada di sampingnya, sampai ia mencium bau aneh yang sangat
busuk, lamat-lamat telinganya mendengar suara yang sama persis dengan yang ia
dengar di konten TikTok yang ia lihat sebelumnya. Suaranya pelan, seperti
berbisik di telinga Tika.
to..long...to..long
Di tengah rasa ketakutan yang luar biasa, Tika nyaris tak
bisa menggerakkan tubuhnya, tangannya terus memeluk erat guling tapi bau busuk
yang menusuk itu kian menjadi, dengan intonasi suara yang seperti tertahan,
kasar dan serak.
To..long..sa...yaaa
Suasananya terasa mencekam, ia merasa guling yang tengah ia
peluk terasa berbeda. Telapak tangannya seperti tengah memeluk sesuatu yang
keras. Seperti punggung manusia, ada butir-butir kecil seperti tanah yang jatuh
di sela-sela jari tangannya.
Saat itu, dengan sekuat tenaga Tika berusaha melepas kedua
tangannya dari guling yang ia peluk, namun tak berhasil, guling itu seperti
menempel di kedua tangannya, sampai Tika sudah tak sanggup lagi menahan bau
busuk yang sangat menyengat. Dengan cepat ia membuka kedua matanya sambil
menahan napas.
Sejurus kemudian, Tika seperti bisu, di depan matanya hanya
berjarak beberapa centimeter, sebuah wajah hitam yang dipenuhi belatung dengan salah
satu bola mata yang sudah hampir mau copot tengah melotot tajam terus memandang
kearahnya,
to..long..saa..yyaaa..
Setelah itu, Tika sudah tidak ingat apa-apa lagi....
--
“Bangun nduk,
tumben bangunnya siang,” ujar ibu yang sudah membelai pelan rambut Tika.
“Ibuuu,” Tika spontan memeluk erat ibunya. Ia masih teringat
peristiwa semalam yang dirasanya sangat nyata,”ibu..semalam Tika dihantui
pocong,” ujarnya terbata-bata, sambil matanya menyapu pandangan ke seluruh
kamarnya.
Ibu tersenyum dan menimpali,”halah nduk..nduk, kamu lupa baca doa mau tidur ya?’, “tapi bu, itu
nyata sekali,’ sergahnya.
“Ya sudah, sana mandi, kamu kan harus kuliah tho’.
“Bu, Tika benar-benar melihat pocong!’.
“Iya..iya, yo wes ayo
mandi dulu’, kata ibu sambil beranjak.
Tika hanya terdiam dan merenung, ia yakin peristiwa semalam
bukanlah mimpi, tapi nyata. Tika bahkan merasakan butiran tanah ditangannya.
---
“Tik..woyyy, tunggu, buru-buru amat sih,” jerit Marlan di
koridor kampus.
Tika, yang melihat sahabatnya itu, langsung menengok dan
menunggu Marlan yang setengah berlari.
“Lan, gue mau cerita’, cecar Tika yang tak sabar ingin
menceritakan peristiwa yang menimpanya semalam.
“apaan? Pasti soal konten TikTok lagi, abis ide lu?’, “nggak
Lan, ini bukan soal konten. Gue didatengin pocong semalem,” ujar Tika cemas.
“Serius lu?, ah jangan-jangan lu cuma capek aja kali trus
pikiran ngayal kemana-mana, segala
pocong dibawa ngayal, hahahaha..’.
“Lan, gue serius!. Kalo’
lu masih nganggep gue temen, lu harus percaya gue, karena ini benar-benar
nyata Lan, pocong itu bukan cuma tidur di sebelah gue, tapi juga minta gua
tolongin dia,’ jelas Tika.
“Oke..oke, gue percaya. Lu, tenang dulu deh, ini pasti ada
sesuatu yang ada kaitannya sama lu, atau sebelumnya lu pernah berbuat sesuatu
yang akhirnya pocong itu ngedatengin
elu...’,
Tika langsung menyergah,’nggak Lan, gue gak ngerasa pernah
bersinggungan dengan hal-hal seperti itu, apalagi lu tau selama ini
konten-konten gue juga cuma bicara soal obyek wisata sekitar Jogja’.
“Tapi memang sebelum kejadian itu, gue sempet liat ada satu
konten, yang kesannya gelap banget Lan. Di video itu, cuma ada cewek, kira-kira
seumuran gue, yang lagi duduk disebuah lorong yang gelap banget dibelakangnya,
entah kenapa gue seperti merasa penasaran dan nggak bisa skip dan terus nonton
video itu sampai selesai. Di akhir video, perempuan itu bicara dengan agak
pelan bahkan kecil sekali, dia cuma bilang, tolong, setelah itu videonya
selesai’.
Tika juga menjelaskan momen saat dia mencium bau busuk
hingga melihat dengan jelas penampakan pocong yang hanya berjarak kurang dari
sejengkal dari wajahnya,”itu nyata banget Lan, gue bahkan sempat ngerasain ada tanah di jari gue, sebelum
gue pingsan. Bau busuknya bahkan masih membekas sampai sekarang Lan’, kata Tika
cemas.
“oke Tik, gue paham banget situasi lu. Yang perlu lu lakuin
sekarang adalah perbanyak ibadah, minta perlindungan sama yang diatas, biar lu lebih
tenang’. “Tengkyu Lan’, timpal Tika pelan.
...
Entah kenapa, sejak memasuki ruang kampus, perasaan Tika
seperti gelisah. Ia merasa seperti tengah diawasi, tapi tak tahu oleh siapa dan
dimana. Dosen comperative linguistic yang terus memberikan penjelasan seperti
tak dihiraukan oleh Tika.
Tenguknya terus merinding, berulang kali Tika mengelap
keringat di lehernya meski ruangan kampus berpendingin udara. Tatapan Tika
seperti kosong. Too..long..to..long, suara yang ia dengar tadi malam kembali
berbisik perlahan di telinga kirinya. Seketika pandangan Tika menjadi nanar,
bulu kuduknya berdiri, perasaannya benar-benar tak nyaman saat itu, seperti ada
kekuatan yang memaksanya untuk memalingkan wajah ke kiri.
Wajah yang sama seperti yang Tika lihat tadi malam, kini
tepat dihadapannya. Ia bisa melihat jelas, wajah hangus gosong dengan puluhan
belatung yang mengerubung keluar dari rongga mulut dan hidungnya yang terus
mengeluarkan darah. Tika bergeming, tubuhnya seperti tak bertulang.
Tika merasa waktu seperti berhenti. Ia bahkan tak bisa
berteriak, meski teman-temannya yang lain ada di ruang kampus itu.
Setelah lama menatap tajam ke arah Tika, dengan salah satu
bola mata yang nyaris keluar, sosok yang dibungkus kain putih kusam dengan
beberapa bekas noda darah dan tanah yang menempel memenuhi hampir seluruh
permukaan kain itu berkata lirih, suaranya seperti berdesis dan hampir tak
terdengar.
Tolong..saya..
Too..long...
....
“Tik..Tika, ayo pulang,’ suara Marlan sambil menggoyangkan
pundak Tika, membuatnya tersadar.”Lan, sosok itu lagi....’, kata Tika lirih.
“Ya ampun, pantesan dari tadi kamu diem aja. Kamu liat lagi?
Disini?. Wah..sudah nggak beres nih kayaknya,” seru Marlan khawatir.
.....
“Gini deh, kita sama-sama cari akun TikTok itu. Gue yakin
ada sesuatu yang mau disampein. Lu harus kuat karena kuncinya ada di lu, Tik,”
kata Marlan. Tapi, Tika hanya mengangguk pelan. Ia benar-benar trauma. Ia tak
mengerti kenapa semua ini bisa dialami olehnya.
Selepas Isya, Tika yang sudah mulai sedikit tenang, berusaha
meyakini dirinya untuk bisa menghadapi teror itu. Ia tak ingin peristiwa ini
terus menghantuinya.
Sejak pukul 9 malam, berkali-kali Tika mencari akun TikTok
yang ia lihat semalam, namun tak membuahkan hasil, meski sudah mencari di
konten khusus horor tapi konten itu tetap tidak ditemukan.
Hingga pukul 11 malam, ia tetap tak berhasil menemukan akun
itu. Tika yang sudah mulai lelah, meletakkan ponsel di sisi tempat tidurnya.
Guling yang sempat berubah menjadi sosok pocong kemarin malam tak lagi ia
gunakan, Tika tertidur.
Sampai Tika tersadar saat lampu latar ponselnya menyala
terang. Aneh, padahal sebelum tidur. Ia sudah mengaktifkan mode pesawat, namun
tiba-tiba layar ponsel itu sudah menampilkan sebuah video dari aplikasi TikTok.
Tika bergegas mengumpulkan kekuatannya dan langsung
mengambil ponselnya. Dari layar itu, tayangan video yang sama seperti yang ia
lihat kemarin malam berputar dengan sendirinya. Isinya pun sama dengan malam
sebelumnya, hanya ada sesosok perempuan yang terdiam membisu dengan wajahnya
yang pucat, dengan latar lorong yang gelap.
Dengan cepat, Tika melihat nama si pemilik akun dan menekan
tombol discover di bagian bawah layar, dan mengetik sebuah nama @amanda04
dibagian menu user.
Akun itu, terlihat seperti baru, hanya ada tiga orang yang
diikuti oleh akun itu. Tapi aneh, konten yang menerornya tak ia jumpai. Ia
hanya melihat satu konten video seorang remaja yang terlihat ceria bersama
keluarganya di teras rumah yang terlihat asri.
Di dalam komentar yang ada di video itu, Tika menemukan
petunjuk penting yakni alamat rumah sang pemilik akun, tertera disitu sebuah
daerah di Gunung Kidul.
Sementara di salah satu sudut kamarnya, tanpa ia sadari,
sesosok pocong dengan kainnya yang lusuh, dan wajah yang hitam gosong terus
mengamati Tika.
Pagi harinya, Tika yang sudah lebih dulu menghubungi Marlan,
berangkat menuju ke alamat si pemilik akun yang selama ini telah menerornya. Ia
ingin menyelesaikan semuanya.
Rumah yang terkesan sunyi itu sama persis dengan konten yang
ada di akun TikTok milik Amanda, meski terlihat besar, namun kondisinya sudah
jauh berbeda dengan yang ia lihat di TikTok, dengan suasana pekarangan rumah
yang terlihat asri dan penataan teras yang nyaman.
Tapi sekarang rumah yang ia lihat itu, kurang terawat letaknya
yang lumayan jauh dari tetangga itu terlihat kusam. Semak belukar meranggas
dipekarangannya, belum lagi cat di tembok rumah yang sudah pudar dan beberapa
sudah mengelupas.
“Assalamualaikum..
...
....
Berulangkali Tika mengetuk pintu rumah yang terbuat dari
kaca itu namun tidak ada respon dari dalam, Marlan bahkan harus berkeliling
hingga bagian belakang rumah, tapi tidak ada tanda, jika di dalam rumah itu ada
orangnya.
“gimana Tik?, atau kita tanya tetangganya saja,’ tanya
Marlan.
“apa mereka tau Lan? rumah tetangga saja jauh dari sini’.
“Kita coba aja, ayo’, ajak Marlan sambil menarik tangan Tika
menuju ke sepeda motor yang diparkir diluar rumah.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, jantung Tika serasa
mau copot, saat dari arah belakang ia mendengar suara berat.
Seorang lelaki berusia sekitar 30-an tahun berkursi roda,
berwajah pucat, dengan pakaian yang lusuh dan rambut yang kusut memandang Tika
dan Marlan dengan tatapan yang tajam.
“Saya Tika dan ini Marlan teman saya’, ujar Tika sambil
mengulurkan tangan, tapi tak mendapat respon.
“ada perlu apa?’ kata pria itu datar.
“apa benar ini rumahnya Amanda?’.
Seketika raut wajah itu berubah, ia terus memandangi Tika
dan Marlan dengan pandangan menyelidik.
“Itu adik saya, tapi dia sudah lama meninggal’, ujar pria
itu tanpa ekspresi.
Tika yang mendengar penjelasan dari pria itu seolah tak
mampu menahan rasa terkejutnya, melihat sahabatnya terlihat shock, Marlan
berusaha menenangkan Tika.
“Maaf mas, kami datang kesini untuk mencari informasi soal
adik mas, karena teman saya ini menemukan akun TikTok milik adik mas. Di video
TikTok itu hanya terlihat seorang perempuan yang duduk di sebuah lorong yang
gelap. Setelah menyaksikan video itu, teman saya selalu mendapat teror,” kata
Marlan menjelaskan.
Pria itu hanya terdiam, dia beringsut menuju ruang
tamu,”mari masuk’, ujarnya.
Marlan dan Tika sempat berpandangan sambil melangkah masuk.
Saat itu, Tika merasakan hawa yang sangat lembab dengan pencahayaan yang amat
minim dan bau yang sangat menyengat dari arah dalam rumah.
Tika melihat sebuah foto besar yang dipajang di ruang tamu,
ada dua orang yang sudah berusia lanjut diapit seorang lelaki dan perempuan,
Tika langsung mengenali remaja perempuan yang ada di dalam foto,”itu foto
Amanda kan,’ tanya Tika kepada pria itu.
“ya, dua orang yang duduk didepannya adalah almarhum orang
tua kami. Saya, Usman kakak Amanda. Kami dua bersaudara, orang tua kami
meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan, hanya saya dan Amanda yang
selamat, tapi kaki saya harus diamputasi karena terjepit jok saat kecelakaan.
Sejak itu saya dirawat oleh Amanda,’ jelas pria bernama Usman itu.
“Tapi..,’ Usman tak melanjutkan omongannya,”tapi kenapa?,’
kejar Tika.
“Sejak tiga bulan yang lalu, Amanda berubah setelah
berkenalan dengan Jaka, teman kampusnya. Ia seperti kecewa dan putus asa dan
tak mau lagi kuliah, setiap hari hanya mengurung diri di kamar, sampai akhirnya
tiga hari yang lalu, ia meminum racun dan meninggal di kamarnya. Saya tak mau
kehilangan keluarga saya yang tinggal satu-satunya lagi’, terang Usman sambil
terisak.
Tika dan Marlan hanya bisa diam,”jasadnya sengaja tak saya
kubur, agar saya bisa terus berada dekat dengan adik saya’, ujar Usman tanpa
ekspresi.
Sejurus kemudian, Usman mengajak mereka menuju ke salah satu
kamar yang berada di ruang keluarga,”dia disitu’, tunjuk Usman.
Ketika itu, Marlan dan Tika terkejut bukan main melihat
pemandangan sesosok jasad perempuan yang terbaring kaku di ranjang dengan mata
yang terbuka dan bekas darah yang mengalir dari hidung. Bau busuk yang sudah
mulai tercium dari jasad itu sangat menusuk membuat Tika dan Marlan langsung
keluar dari kamar itu.
“Mas, Amanda harus dikubur dengan layak. Kalau dibiarkan
seperti itu, Mas Usman sama saja menyiksa dia’, terang Marlan.
Usman hanya terdiam, tanpa menunggu persetujuan dari Usman,
Marlan bergegas menghubungi polisi. Ia juga mengajak Tika menemui tetangga
terdekat dari rumah itu untuk memberitahu temuan mereka.
...
Setelah prosesi pemakaman usai, Usman akhirnya dirawat oleh
kerabatnya, sementara rumah itu dibiarkan kosong tak berpenghuni.
Marlan dan Tika akhirnya bisa bernapas dengan lega, sebelum
beranjak pulang, Usman sempat berujar pendek kepada Tika,”terima kasih’, Tika
hanya mengangguk dan tersenyum.
Beberapa hari setelahnya, Tika sudah jauh lebih tenang, tak
ada lagi gangguan yang ia alami.
Ia kembali ke aktivitasnya seperti biasa, kuliah dan membuat
konten video TikTok yang sudah beberapa hari ia lupakan. Malam itu, Tika baru
saja selesai mengedit video konten TikToknya. Ia melihat jam di layar ponselnya
yang sudah menunjukkan pukul 23.30.
Ia beranjak dari meja belajarnya untuk tidur. Malam itu
udara terasa dingin menusuk, diluar juga sedang hujan meski tak terlalu besar.
Ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya sambil memeluk guling
kesayangannya dengan nyaman.
Entah sudah berapa lama Tika terlelap, ia merasa ada sebuah
beban yang berat dan keras diatas tangan kirinya. Tika tak memiliki firasat
apapun ketika membuka matanya perlahan, sampai..
Sesosok jasad berwujud pocong dengan wajahnya yang menghitam
dengan salah satu bola mata yang nyaris keluar tengah memandanginya...