Pape, Hantu Tanpa Kepala Urban Legend dari Pulau Bali


 

Di Bali selain urban legend yang paling terkenal dan sampai saat ini masih ada keberadaannya yakni, Leak itu sendiri. Ada pula sosok hantu 'Pape' yaitu setan tanpa kepala, terkadang juga sosok itu berbadan manusia tapi berkepala anjing, seram bukan?! Dan urban legend ini diyakini masih bergentayangan hingga kini.

...............

Suatu malam aku terjaga karena mendengar lolongan anjing yang teramat panjang. Hingga, bulu kuduk meremang dan jujur aku yang suka dengan hal mistis malam itu tiba-tiba menjadi takut keluar untuk buang air kecil. Auranya sangat berbeda dari biasanya, hawa teramat dingin serta suasana yang begitu mencekam.


Di mana aku sendiri tidak tahu jika tetangga belakang rumah ada yang meninggal tertabrak truk. Jasadnya belum terkremasi secara sempurna, karena ada bagian tubuh yang belum lengkap. Maaf sebut saja beliau dengan nama ibu Komang, beliau seorang guru di tempatku.


Kebetulan hari Senin, hari yang tak terduga bagi beliau. Hari di mana ia harus meregang nyawa karena kecelakaan lalu lintas yang mengerikan hingga meninggalkan kesan yang teramat dalam bagi siapa saja yang ditinggalkan.


Hari sudah cukup sore jadi bu Komang buru-buru ingin sampai ke rumah. Bagi umat Hindu pukul 18.00 sore dan 06.00 pagi adalah waktu untuk bersembahyang pada Sang Hyang Widhi Wase, jadi tidak boleh telat membuat banten dan sesaji lainnya. Karena pukul 18.00 sore tepat harus sudah siap segalanya.


Beliau membawa sepeda motornya dengan sangat kencang. Cukup terbawa emosi dikejar waktu, tidak melihat truk tronton melintas dari arah timur, kemudian beliau yang melaju dari arah berlawanan akhirnya menabrak truk tersebut sampai tergilas pada bagian perut. Seketika kecelakaan tak terelakkan, bu Komang meninggal di tempat dengan perut yang terburai. Sangat tragis memang.


Dalam agama hindu kremasi sangatlah panjang dan membutuhkan proses yang harus benar-benar diinginkan bagi yang meninggal. Karena itu adat di Bali pemangku sebagai inti dari terlaksananya upacara.


Melihat keadaan ibu komang yang sangat mengenaskan. Mau tidak mau keluarga harus segera melakukan upacara Ngaben, yakni di kremasi secara di bakar di dalam sebuah drum yang dibelah menjadi dua.


Tidak seperti yang kita bayangkan, dimasukkan dalam peti kemudian dibakar dengan alat pembakar. Jauh dari ekspektasi. Hal ini tidak masalah asalkan ada pemangku yang memimpin kremasi tersebut.


Hari baik tidak ditentukan, jasad korban belum lengkap. Terwujudlah istilah dengan nama mati penasaran. Mati penasaran di Bali kebanyakan bagi mereka menjadi “Pape”.  


Wujud yang identik berkepala anj*ng dan mengelurkan bau yang sangat busuk. Nahas sekali... malam itu anjing melolong begitu panjang tak henti saling bersahutan. Dingin menusuk kulit terdenger suara cekikikan yang jauh menandakan bahwa ia dekat denganku.

.....


Keesokan harinya, ku ceritakan ini semua pada teman sebelah rumah yang kebetulan bertemu di warung, ia pun sama merasakan apa yang ku alami malam tadi. Lia menceritakan secara detail apa yang ia lihat, tidak ia kurangi sedikit pun. Melihat sosok tanpa kepala yang diikuti beberapa anjing serta mengeluarkan lolongan yang sangat panjang teramat menyedihkan bagi siapa saja yang mendengarkan kepiluan si anjing tersebut.


Jika orang awam melihat secara langsung pasti akan ketakutan. Karena ia sering berada di sudut-sudut rumah untuk menampakkan diri. Kemudian sampai ada anjing yang melihat dan menuntunnya ke tempat lain. (oi)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال