Sebuah keluarga yang membeli sebuah rumah yang belakangan diketahui menjadi tempat tinggal sosok tak kasat mata...
..........................
Dulu sekitar tahun 2015, aku dan suami ingin membeli rumah yang
sudah siap huni di kota Tasikmalaya, kebetulan saya asli dari Tasikmalaya. Kami
berdua mulai mencari cari informasi
kesana kemari tentang rumah yang akan dijual, mulai dari tanya ke
saudara ke teman ke tetangga bahkan melalui sosmed pun kami cari-cari info.
Tak berselang lama sekitar dua minggu kemudian, datanglah
saudara aku menawarkan sebuah rumah milik temannya kepada kami. Letaknya
lumayan strategis di sebuah perumahan tak jauh dari pusat kota.
Aku dan suami pun tertarik untuk melihatnya. Dan keesokan
harinya kita semua sepakat untuk mengunjungi rumah tersebut dan berharap
langsung cocok dengan rumah yang akan dituju tersebut.
Tak memakan waktu lama, sekitar 10 menit kami telah sampai
ke tempat tujuan karena rumah aku sebelumnya masih dekat dengan lokasi
tersebut. Sesampainya di sana kami langsung saja melihat lihat semua isi
rumahnya.
Rumah bercat kuning dan berlantai 2 itu sukses memikat hati
aku dan suami. Rumah itu tidak terlalu besar dengan garasi didepannya. Kami
merasa cocok dengan rumahnya karena menurut kami rumahnya nyaman, strategis, terutama
cocok dengan kantong kami.
Singkat cerita setelah deal rumah itu kami beli, tak
menunggu waktu lama kami pun mulai mengemas barang-barang yang akan kami bawa
pindah ke rumah yang baru. Sebelum pindahan aku dan suami berinisiatif untuk
mengunjungi rumah tersebut untuk dibersihkan terlebih dahulu.
Dari situlah awal mula kejanggalan rumah bercat kuning ini.
Ketika kami masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam, tanpa diduga dari
atas genteng terdengar suara batu kerikil berjatuhan ke bawah, sontak saya dan
suami pun kaget dan bergegas untuk melihatnya keluar.
Dari luar pintu tepatnya di teras depan sudah banyak sekali
kerikil yang berjatuhan. Tapi disitu kami berpikir mungkin ada anak-anak kecil
di belakang rumah yang sedang bermain dan iseng melempar kerikil-kerikil itu.
Kami pun tak menghiraukan kejadian tersebut dan mulai melakukan beres-beres
rumah seperti awal tujuan kami.
Selang beberapa hari kami pun pindah dan semua barang telah
masuk ke rumah baru tersebut. Kami pun membereskan barang sedikit demi sedikit,
hingga keesokan harinya di pagi hari suami pamit untuk pergi bekerja.
Tinggallah aku dan anak laki-laki ku yang baru berumur tiga
tahun. Hari itu aku menelpon sepupu perempuanku untuk menemani dan membantu aku
membereskan barang. Selang beberapa jam dia pun datang, ketika kami asyik membereskan
barang di lantai atas sambil bercanda, tiba-tiba anak ku memanggil ayahnya,
katanya,"hore ayah udah pulang".
Sontak aku kaget karena waktu itu jam masih menunjukan
pukul. 12.00 siang dan itu bukan waktunya suamiku pulang. Aku dan sepupuku
memang mendengar suara langkah kaki yang akan menuju ke lantai atas.
Anaku ketawa-tawa dengan tangan menunjuk ke tangga sambil
bilang;"itu ayah, itu ayah".
Sepupuku langsung berdiri untuk memastikan siapa yang
datang, tapi ternyata di tangga itu tidak ada siapa pun. Sepupuku mencoba
mencari ke bawah dengan berpikir mungkin suamiku bermaksud jahil dengan
bersembunyi di bawah, tapi setelah dicari seisi rumah ternyata memang tidak ada
siapa pun yang datang.
Sepupuku langsung lari ke atas lagi sambil terlihat sedikit
pucat, dan bilang ke saya kalo rumahnya serem katanya. Setelah kejadian itu aku
pun tak meneruskan beres-beres rumah karena merasa sedikit takut, aku pun ikut
pergi ke rumah sepupu ku bersama anak ku sambil menunggu suami pulang kerja.
Ketika sore tiba akhirnya suami pulang kerja dan menjemput
aku dan anakku di rumah sepupu ku. Dan kami bergegas pulang ke rumah, dan
sesampainya di rumah aku menceritakan kejadian siang tadi kepada suami tapi dia
hanya bilang mungkin anak ku hanya mencoba untuk menjahili aku dan sepupuku.
Akupun mulai berpikir positif lagi, mungkin iya kejadian tadi
hanya keisengan anakku saja.
Setelah malam tiba sekitar pukul 22.00 dari balik tembok
dekat tangga terdengar jelas sekali suara orang yang sedang memukul-mukul palu
ke tembok kami.
Otomatis kami pun saling berpandangan, tapi suami bilang
mungkin di belakang rumah kami ada orang yang sedang membangun rumah atau
sekedar membenahi rumahnya, tapi aku sedikit heran masak iya orang bangun rumah
malam-malam begini sedangkan dari tadi siang tak ada suara begitu, lagi-lagi
kepala ku dipaksa untuk berpikir positif.
Awalnya aku tak keberatan dengan suara itu yang selalu
muncul tiap malam dan baru berhenti menjelang adzan subuh, tapi setelah
seminggu pun suara itu masih saja muncul setiap malam, kami pun mulai
terganggu.
Dan berencana untuk melihat keadaan rumah yang ada
dibelakang rumah kami itu besok siang. Tapi alangkah terkejutnya ketika kami
melihat ke belakang itu hanya ada tembok besar, dan setelah kita tanya ke tetangga
sekitar ternyata dibalik tembok itu adalah kuburan.
Akhirnya kami pun pulang ke rumah dengan perasaan sedikit
takut. Dari situ suami mulai paham dengan keadaan rumah itu, ternyata banyak
penghuni yang tak kasat mata di rumah yang baru kami beli ini.
Tapi suami tetap meyakinkanku untuk tidak takut dengan
gangguan mereka dan menyuruhku untuk lebih sering beribadah. Dengan terpaksa
aku menuruti perkataan suami untuk tidak takut, tapi tetap saja hatiku berkata
lain.
Semakin hari semakin banyak kejadian aneh yang aku alami,
terutama di tangga menuju lantai dua, aku merasa tempat paling menyeramkan.
Seminggu ini suami kerja bagian sift malam, itu berarti seminggu ini aku akan
melewati malam-malam hanya berdua dengan anaku dalam ketakutan.
Setiap malam aku selalu mendengar suara anak kecil tertawa di
tangga, terus lari-larian di tangga, dan suara orang yang memukul tembok itupun
masih ada setiap malamnya.
Hingga suatu malam aku benar-benar merasa di teror oleh
makhluk-makhluk itu. Sekitar pukul 20.00 malam anak ku udah tidur dan tinggalah
aku sendiri dengan mata masih terjaga. Beberapa menit kemudian ada yang mengetuk
pintu kamar, aku coba buka dan ternyata tidak ada siapa-siapa.
Aku tutup lagi pintunya dan terdengar bunyi ketukan pintu
lagi tapi kali ini dari pintu balkon, aku pun takut tak berani membuka pintu
karena mana mungkin ada orang diluar balkon lantai 2. Setelah itu pintu kamar
diketuk lagi, terus pintu balkon diketuk lagi, begitu terus selang setengah
jam, dari situ aku mengaji dengan suara lantang, tapi tetap saja tak
menghilangkan rasa takut itu, aku menangis sejadi-jadinya sambil terus menelpon
suami.
Suamipun mencoba menenangkan aku sampai dia pulang kerja.
Sekitar pukul 1 dini hari teror itu baru berhenti dan kebetulan suami pun
pulang kerja, saat suami pulang aku langsung tertidur lelap karena lelah sehabis
nangis.
Masih banyak kejadian aneh di rumah ini, bahkan suatu hari
keluarga ku datang mengunjungiku, tepat jam setengah 6 sore ketika kami sedang
berkumpul di dapur karena sambil masak, tiba-tiba lampu padam.
Seketika itu aku dan ibuku mendengar ada orang yang sedang
mandi di kamar mandi yang kebetulan bersebelahan dengan dapur, tadinya aku dan
ibu berpikir kalo itu adalah salah satu dari kluarga kami yang sedang mandi.
Tapi tak berselang lama lampu kembali terang dan melihat
semua keluarga masih berkumpul, sontak aku dan ibu saling tatap-tatapan dan
membuka pintu kamar mandi yang ternyata kosong.
Terus aku juga sering dengar wastafel di dapur itu menyala
sendiri dan seperti ada orang yang mencuci piring, tapi ternyata tidak ada
siapa-siapa disana.
Akhirnya aku dan suami mengadakan syukuran dengan mengadakan
pengajian di rumah. Setelah acara selesai kami pun bertanya kepada ustadz yang
mengisi acara pengajian itu tentang keadaan rumah kami ini.
Ustadz bilang kalo sebelum kami tempati, rumah itu sudah
menjadi rumah “mereka”, dan mereka belum terbiasa dengan kehadiran kami makanya
mereka sering mengganggu kami, tapi Ustadz bilang kalo kejadian ini tidak akan
selamanya terjadi asalkan kami rajin beribadah.
Dan ternyata benar setelah melewati waktu beberapa bulan akhirnya kami pun mulai terbiasa dengan keisengan “mereka”. Mereka pun sudah mulai tidak mengganggu kami, mungkin hanya sesekali saja. (Wilda. H)