Teman Ayah Ku

Seorang anak melihat pemandangan aneh, ayahnya yang terlihat berbicara sendirian, seolah ada orang lain yang bersama dengannya. Sampai akhirnya, aku melihat sosok tak kasat mata yang mengerikan dan terus menghantuinya...

........


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.13 malam. Namun ayah ku yang sedari tadi berada di ruang tamu, masih saja enggan beranjak dari tempat duduknya. Entah dengan siapa Ayah berbicara, yang jelas ini bukan pertama kalinya aku melihat ayah seperti itu.


Sudah sebulan kami menempati rumah ini, semenjak ayah di pindah tugaskan kesini jadi otomatis kami harus pindah rumah. Awalnya aku tidak setuju, karena untuk beradaptasi dengan lingkungan baru itu tidak menyenangkan.


"Ayah lagi ngobrol sama siapa?" tanyaku saat berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum.


"Bukan siapa-siapa, udah sana tidur! Besok kan sekolah?" Jawab ayahku yang sedari tadi menutup mata dengan tembakau yang sudah terbakar di bibirnya.


Semenjak pindah ke sini, ayah selalu berbicara sendiri. Bahkan saat bekerja pun terkadang selalu tersenyum dengan kepala menunduk. Persis menyapa seseorang yang lewat tapi anehnya selalu menutup mata.


"Ayah kok senyum-senyum, emang ada yang lewat?" 


"Gak ada, ayo kita pulang, sudah sore"


Aku yang pada saat itu merasa haus dan lapar memilih untuk tidak bertanya lagi. Namun karena kejadian ini sering terjadi, membuat aku menjadi sangat penasaran.


"Ibu, kok ayah sering ngomong dan senyum-senyum sendiri ya buk?" tanyaku sambil membantu ibu menyusun piring.


"Lain kali kalau kamu dengar dan liat hal seperti itu jangan di tegur ataupun bertanya ya!" ucap ibu sambil berlalu begitu saja.


Karena tak mendapatkan jawaban, aku akhirnya masuk ke kamar dan memutuskan untuk belajar saja. Saat belajar, aku merasa ada seseorang yang memperhatikan ku, namun saat aku menoleh tidak ada siapapun. 


Mendadak aku jadi merinding saat angin mulai berhembus lembut. Aku baru sadar kalau jendela kamarku terbuka, padahal seingatku sudah ku tutup.


Aku melangkah dengan malas ke arah jendela. Namun belum sempat jendela itu ku tutup, tiba-tiba aku mencium bau anyir dari luar. 


Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....


Aku berteriak histeris, saat melihat sosok lelaki berbaju putih di penuhi darah  tengah berdiri di samping rumah menatapku sambil tersenyum. 


Suara teriakan ku membuat ayah dan ibu langsung masu ke kamar. Ibu panik dan mulai bertanya, aku hanya menunduk takut sambil menunjuk ke arah jendela.


Ayah menatap ke luar jendela agak lama lalu kemudian menutup dan mengunci jendela kamarku.


"Kamu lihat sesuatu kan?" tanya ayah sambil mengelus rambutku


"A-ddda hantu yah, serem banget mukanya terus darahnya banyak banget di bajunya." ku peluk tubuh ayahku


"Lain kali, jendelanya jangan di buka kalau malam ya nak!" ucap ibu sambil membawa air dan menyuruhku meminumnya.


Aku hanya mengangguk lalu ibu dan ayah menyuruhku untuk tidur. Setelah itu ayah dan ibu keluar, namun aku sempat mendengar percakapan mereka sebelum pergi.


"Dia muncul karena nia terus bertanya dengan siapa aku berbicara." bisik ayah


"Lagian ayah juga, ngapain pake berteman dengan mereka segala?" ucap ibu.


Semenjak kejadian semalam aku jadi tidak pernah lagi membuka jendela. Aku berniat tidak akan membuka jendela itu lagi, Meskipun pagi atau pun siang sekalipun.


 Aku berusaha untuk tidak mengingat kejadian semalam, karena hari ini aku harus bersiap-siap ke sekolah. Sampai di sekolah aku langsung masuk ke kelas dan menaruh tasku, sembari menunggu guru datang.


Suasana di kelas masih sepi, hanya beberapa siswa yang baru datang. Itupun langsung pergi ke kantin untuk sarapan, ada juga yang sedang asyik bermain di lapangan.


Karena merasa bosan aku mengeluarkan alat tulis dan beberapa buku untuk menghilangkan rasa bosan. Saat sedang asyik membaca tiba-tiba ada yang menari buku ku hingga terjatuh ke bawah meja.


"Pake jatuh lagi." Kesalku perlahan menuduk dan mengambil buku itu.


"Tapi kaki siapa itu?" Aku mendongak cepat ke arah belakang tapi tidak ada siapa-siapa di sana, karena takut, aku pun berlari menuju kantin.


"Nia kamu kenapa lari-lari, muka kamu juga pucat kayak ngeliat hantu?" Bu sri, penjual makanan di kantin sekolah bertanya kepadaku.


"I-iiya Bu." Jawabku gugup.


"Di sini memang banyak hal seperti itu, sebaiknya kamu jangan sendirian ya dan jangan lupa banyak berdoa."


"Iya Bu"


Bel tanda pulang berbunyi, membuat semua murid bergegas merapikan buku lalu berdoa bersama sebelum pulang. Aku juga tidak sabar untuk pulang, karena aku tidak sabar untuk menceritakan kejadian ini ke Ibu.


Aku sedikit berlari saat mendekati rumah tapi sayup-sayup terdengar suara aneh dari samping rumahku. Kebetulan rumah itu kosong dan sedikit gelap.


Krieeetttt...krieeettt...





Jendela rumah itu sedikit terbuka. Karena penasaran aku pun mendekat ke arah rumah itu, rumah itu di penuhi dengan debu juga dedaunan kering dari pohon Mangga yang berada di halaman depan rumah itu.


Aaaaaaaa........Setannnnnnnnn


Mendadak tubuhku lemas saat melihat sosok tanpa kepala menembus dinding bersama sosok wanita berbaju putih dengan mata yang bewarna merah menyala.


"Nia, kamu sudah sadar?" tanya ibu yang berada di sampingku.


"Kita ada dimana Bu?"


"Kita lagi di klinik sayang, tadi ibu nemuin kamu pingsan di samping rumah kosong dekat rumah kita" 


"I-iiibu Nia takut Bu!!" aku memeluk ibu sambil menangis.


"Udah jangan takut sayang, ibu ada disini. Ayah sebentar lagi kesini." ucap ibu menenangkan.


Tak lama kemudian Ayah datang dan menjemput kami. Aku pun menjelaskan kejadian tadi, namun ayah dan ibu hanya saling pandang mendengarkan ceritaku. Wajah ayah terlihat memikirkan sesuatu begitu pun juga ibu tapi aku tidak tahu apa itu.


Aku menutup mata saat turun dari mobil. Tak lupa aku meminta untuk di gendong karena kakiku masih sedikit sakit akibat terjatuh.


"Apakah Nia akan seperti ayahnya?" suara ibu dengan seseorang di telepon."


"Ayah? Ada apa dengan ayah, aku kan anak ayah jadi kalau seperti ayah kan wajar" batinku.


"Tapi Nia masih kecil Bu, sebentar lagi dia akan ujian. Aku tidak mau sampai Nia kenapa-kenapa!" suara ibu meninggi lalu kemudian terisak membuatku yang sedari bersembunyi di balik pintu mendekat kearahnya.


"Ibu kenapa?" tanyaku sambil menatap wajah ibu.


"Ahhh enggak ibu hanya khawatir sama kamu sayang, nenek bilang beberapa hari lagi bakal kesini!"   jawab ibu sambil mengelus pipiku.


Aku sangat senang mendengar Nenek akan kesini. Sudah lama aku tidak bertemu dengan Nenek dan kakek. Pasti mereka bakal bawa banyak mainan dan juga dodol kesukaanku.


"Jangan muncul kehadapan putriku, dia masih anak-anak. Aku janji akan datang membawa apa yang kau mau." ucap Ayah saat aku membuka pintu hendak membuang sampah.


Aku melihat sekeliling, tidak ada orang lagi-lagi ayahku berbicara sendiri sambil tetap menutup matanya. Sudahlah lebih baik aku masuk, takut nanti malah melihat hal yang tidak diinginkan. (Felisha. A)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال