Arwah Bu Marno yang Meneror Warga


Arwarh Bu Marno mendatangi rumah setiap warga di kampung itu. Sosoknya yang mengerikan membuat warga ketakutan. Dan, setiap kali mendatangi rumah warga, hantu Bu Marno selalu berujar;

 

Masih ada yang mengganjal....

...

Narasumber yang menceritakan kisah ini bernama Dwi, kisah ini terjadi sekitar tahun 2000-an akhir, lebih tepatnya saat awal Dwi datang ke Jogja untuk kuliah disana, Dwi mengambil tempat kost di Kota Jogja yang lokasinya hanya 5 menit dari arah Malioboro, untuk saat ini mungkin lokasi sudah banyak berubah karena tempat kost Dwi sendiri pun sekarang sudah menjadi sebuah hotel.

 

Dulu ketika Dwi ngekost di tempat tersebut, lingkungan tempat tinggalnya itu cukup ramah dan warganya banyak yang berjiwa sosial, Dwi pun cukup dekat dengan warga di sana, dan di kampung tempat kost Dwi ada kegiatan olahraga badminton yang diadakan seminggu dua kali oleh ibu-ibu kampung, karena Dwi suka sekali berolahraga maka ikutlah Dwi dengan agenda badminton tersebut.

 

Beberapa bulan pun berlalu, Dwi makin merasa nyaman di kampung itu, hingga pada suatu hari para warga kampung mengadakan piknik satu bus ke Tawangmangu di daerah Jawa tengah, karena Dwi sudah dianggap sebagai warga maka Dwi pun di ajak oleh mereka, kegiatan piknik ini berlangsung sangat gembira, walau tidak semua warga ikut saat itu.

 

Salah satu warga yang tidak ikut adalah Bu Marno, karena memang saat itu beliau sedang terbaring sakit, saat hari sudah mulai gelap dan saat itu rombongan piknik sedang dalam perjalanan pulang, mendadak di bus semua warga mendapatkan kabar yang mengejutkan, mereka mendapat kabar kalau Bu Marno tengah kritis dan di larikan ke rumah sakit, kebetulan saudara beliau ikut dalam rombongan bus, dan mendapatkan kabar dari saudaranya yang mengantar Bu Marno.

 

Sewaktu Dwi mendengar saudaranya Bu Marno di beri kabar di dalam bus melalui telepon, entah kenapa Dwi seperti mendapat firasat kalau nyawa Bu Marno tidak dapat terselamatkan, dan ternyata benar sesampainya Dwi dan warga lainnya di kampung, tersiar kabar kalau Bu Marno sudah meninggal dunia, tentunya warga kampung pun sangat berduka dan segera menyiapkan prosesi untuk pemakaman beliau keesokan paginya.

 

Dan pada akhirnya pemakaman Bu Marno pun berjalan lancar, sebagai warga baru Dwi pun ikut melayat namun sebuah kejadian demi kejadian mistis pun di mulai dari sini.

 

Dwi merasa ketika almarhumah selesai di makamkan suasana kampung menjadi sedikit berbeda, dia merasa saat dia masuk kampung suasananya sangat sejuk tapi membuat bulu kuduknya merinding, tapi ya sudahlah Dwi memilih untuk tak menghiraukan hal itu.

 

Beberapa hari kemudian Dwi yang tengah bersantai di depan kosnya, tiba-tiba dikejutkan oleh kabar dari ibu-ibu kampung yang tengah berkumpul sambil mengobrol, awalnya Dwi hanya mencoba untuk bergabung ke dalam kerumunan ibu-ibu itu.

 

Namun disitu Dwi sangat terkejut ketika mendengar salah seorang ibu bercerita kalau Bu Marno itu masih bergentayangan, ibu itu bercerita kalau beberapa orang di kampung tersebut ada yang di panggil namanya, dan suara yang memanggil itu sama persis dengan suara Bu Marno yang memang sudah khas dan familiar bagi warga kampung.

 

Tidak hanya itu, beberapa warga juga mengaku kalau di tengah malam ada yang mengetuk pintu rumah mereka tapi ketika pintu di buka tidak ada siapa-siapa disana, dan akhirnya cerita itu pun cepat tersebar lalu menimbulkan ketakutan bagi para warga sekitar.

 

Salah seorang tetangga yang saat itu ikut mengobrol sebut saja Bu Marjinah, terlihat tidak percaya akan kabar itu.

 

”oalahhh.... Bu Marno itu sudah gak ada tho ya, mestinya orangnya ya sudah di alam kubur toh sekarang”

 

Dwi sebagai warga yang terhitung paling muda disana hanya terdiam saja karena Dwi sendiri pun belum mengalami apa yang beberapa warga itu ceritakan, dan tidak lama kemudian semua ibu-ibu pun membubarkan diri untuk melanjutkan aktifitas mereka seperti hari-hari biasa.

 

Keesokan harinya Dwi melihat lagi ibu-ibu tengah berkerumun namun dari jauh Dwi tampak melihat Bu Marjinah yang aktif berbicara, karena penasaran Dwi pun menghampiri mereka dan meminta Bu Marjinah menceritakan dari awal apa yang ia ceritakan dari tadi kepada ibu-ibu itu, ternyata cerita yang beliau sampaikan cukup membuat bulu kuduk Dwi merinding.

Jadi ceritanya semalam di rumah Bu Marjinah, beliau mengaku tiba-tiba mendapatkan ketukan pintu, beliau pun bersama suaminya membuka pintu dan betapa terkejutnya mereka ketika membuka pintu Bu Marjinah melihat sosok Bu Marno berdiri di depan pintu rumahnya, tak hanya itu sosok itu juga berkata;

 

”aku pinjam rakeeeet!”

 

Persis saat masa hidupnya Bu Marno yang memang seringkali meminjam raket kepada Bu Marjinah untuk bermain badminton bersama warga yang lainnya, sontak saja Bu Marjinah dan suaminya ketakutan lalu segera menutup pintu dan lanjut berlari ke kamar serta berdoa.

 

Dwi yang mendengar cerita itu cukup ketakutan, dan begitu Bu Marjinah selesai berbicara ada juga salah seorang tetangga sebut saja namanya Bu Wanti yang menceritakan pengalaman suaminya di depan para Ibu-Ibu, jadi ceritanya beberapa malam yang lalu Suami Bu Wanti tengah tertidur di pos ronda sendirian saat sedang piket ronda.

 

Beliau kebetulan kebagian jaga pos sementara teman-temannya yang lain berkeliling kampung untuk patroli, saat tengah tertidur Suami Bu Wanti merasa ada yang menggoyang-goyangkan kakinya layaknya orang yang membangunkan tidur, beliau sempat berpikir itu mungkin teman-temannya yang baru selesai patroli.

 

Namun betapa terkejutnya beliau ketika melihat yang di hadapannya itu adalah sosok Bu Marno, namun anehnya sosok Bu Marno hanya terdiam menatap beliau, sontak saja beliau berlari ketakutan dan segera pulang ke rumah malam itu.

 

Akhirnya Dwi beserta ibu-ibu kampung pun membubarkan diri karena dirasa obrolan mereka sudah selesai, lalu melanjutkan aktifitas masing-masing seperti biasa, di dalam hati Dwi ada rasa percaya tak percaya mendengar cerita para ibu-ibu dari kemarin tentang Bu Marno, tetapi Dwi juga yakin tiap manusia memiliki sosok pendamping atau yang biasa disebut qorin yang mana akan menyerupai sifat-sifat manusia yang ia dampingi bahkan saat manusia itu meninggal.

 

Malam berikutnya ternyata tibalah giliran Dwi yang di datangi oleh sosok Bu Marno, kejadiannya saat malam hari Dwi tengah tertidur pulas, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di rumah kostnya Dwi, karena takut Dwi memilih untuk mendiamkannya dan tetap berada di kamar, tapi entah mengapa tiba-tiba terdengar suara yang memanggil nama Dwi, suaranya cukup jelas dan Dwi sangat hafal kalau itu seperti suara almarhumah Bu Marno.


 




Mungkin karena di dorong rasa penasaran Dwi pun keluar kamar dan membuka pintu, dan benar saja dari kejauhan tampak sosok seperti Bu Marno berdiri di sudut gang kampung, sosok itu tampak terlihat jelas di pojok gank yang cukup terlihat dari depan pelataran tempat kost Dwi, walaupun jaraknya jauh tetapi Dwi bisa mendengar sosok itu berkata dengan jelas

 

”masih ada yang mengganjaaaall.....”

 

Entah mengapa rasa rasa takut Dwi tiba-tiba berubah menjadi rasa iba, karena di dorong oleh rasa penasaran Dwi pun berlari menghampiri sosok itu, namun sosok itu justru melayang ke arah gang, Dwi pun mengejar sampai ke sisi gang lain yang gelap, namun di situ Dwi terkejut setengah mati ketika melihat di sudut gang yang tampak adalah sosok ular berkepala manusia namun sekilas wajahnya bukanlah wajah dari almarhumah Bu Marno.

 

Sosok itu tampak menyeringai ke arah Dwi, Dwi yang kaget dan ketakutan pun segera menghentikan niatnya mengikuti sosok itu, Dwi pun berbalik lari masuk ke dalam kost dan langsung masuk dalam kamar.

 

Di dalam kamar Dwi masih mendengar suara panggilan yang sangat mirip dan suara Bu Marno semasa beliau masih hidup, berkali-kali pula suara itu mengatakan kalau ada hal yang masih mengganjal, disitu Dwi mencoba bertanya balik ke arah suara itu tapi suara itu tidak menjawab, dan Dwi pun tidak tahu hal apa yang di maksud dari kata

 

”masih mengganjal”

 

Disitu Dwi baru bisa tidur nyenyak saat sayup adzan subuh mulai terdengar.

 

Keesokan harinya Dwi mendapat kabar bahwa ternyata semakin banyak warga kampung yang bercerita kalau mereka di datangi sosok yang menyerupai Bu Marno, dan malam-malam berikutnya Dwi memilih untuk meminta teman satu kostnya tidur bersama dia di kamar agar Dwi merasa lebih tenang, tapi suara-suara panggilan itu tetap terdengar dalam beberapa malam berikutnya, dan sama seperti sebelumnya suara itu tidak menjelaskan hal apa yang masih mengganjal.

 

Hingga pada suatu hari warga kampung yang resah segera berkumpul bersama dengan para pengurus kampung untuk membahas hal ini, dan kebetulan juga ada sesepuh di kampung yang merupakan abdi dalem dari keraton jogjakarta, pengurus kampung memutuskan untuk mengambil tindakan karena banyak warga yang resah merasa di hantui oleh sosok yang menyerupai Bu Marno, gangguan juga bermacam-macam tapi yang paling sering adalah suara_suara panggilan serta sosok itu mengetuk pintu di malam hari untuk meminjam raket kepada beberapa warga.

 

Dwi agak lupa apa yang warga kampung bicarakan sebagai solusi detailnya, tetapi yang jelas setelah itu para pengurus dan sesepuh kampung segera mendatangi rumah almarhumah Bu Marno, mereka terkejut karena anak dari Bu Marno ternyata sudah mengungsikan diri beserta keluarganya dari rumah itu, saat Bu Marno masih hidup anaknya itu tinggal menempati rumah Bu Marno sekaligus merawat Bu Marno.

 

Warga pun berinisiatif untuk menghubungi anak Bu Marno tersebut melalui telepon, dan akhirnya setelah di hubungi warga pun bertemu dengan sang anak, ternyata sang anak juga memiliki pengalaman yang cukup membuat merinding, (oh ya sekedar info keluarga Bu Marno ini sebenarnya masih menganut tradisi kejawen yang cukup kental, di mana pada waktu-waktu tertentu mereka membuat sesajen untuk di letakan di sudut-sudut rumah)

 

waktu beberapa hari setelah Bu Marno meninggal sang anak melihat sosok yang menyerupai ibunya itu tengah memakan makanan yang ada di dalam sesajen.

 

Yaahh... sang anak hanya melihat sosok itu dalam sekejap, lalu sosok itu pun menghilang, tetapi sesajen itu memang terlihat berantakan seperti habis di makan oleh seseorang, begitu melihat hal itu sang anak pun segera berinisiatif untuk membawa istri dan anaknya ke tempat lain sebelum mereka mendapatkan banyak gangguan, dan rumah yang di miliki oleh keluarga Bu Marno itu pun di kosongkan.

 

Singkat cerita salah satu sesepuh kampung yang juga abdi dalem Keraton Jogjakarta menyarankan agar keluarga mengadakan ritual khusus, agar gangguan yang meresahkan warga itu berhenti, ritual pun di lakukan secara tertutup oleh pihak keluarga Bu Marno, dan di dampingi oleh sesepuh kampung tersebut, ritual itu di adakan di rumah dan di makam Bu Marno tepat 40 hari setelah beliau meninggal dunia.

 

Dan syukurlah semenjak ritual yang di lakukan itu tidak ada lagi terdengar kabar sosok menyerupai Bu Marno menghantui warga kampung, Dwi pun demikian tidak mendengar lagi suara-suara panggilan di malam hari, lantas menurut cerita yang Dwi dengar beberapa waktu setelahnya, konon keluarga Bu Marno dahulunya adalah penganut pesugihan, di mana dahulu keluarganya bisa kaya raya dalam waktu sangat cepat, namun secara mendadak pula pada sewaktu-waktu mereka jatuh miskin dan rumah serta tanah mereka yang demikian banyaknya bisa secara cepat habis begitu saja, (Ichanisa) 

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال