Pintu itu pelan-pelan terbuka dan terlihat SPG dengan wajah separuh gosong. Ia tersenyum dengan mata tajam dan mendekati kedua gadis itu.
Sinar matahari di pukul 16.30 sore tidak sepanas siang hari.
Tempat parkir sepeda motor terlihat lengang. Mall yang dulunya terbakar karena
kerusuhan di bulan Mei tahun 1998, sekarang direnovasi dan terlihat megah
seperti mall pada umumnya. Namanya pun berganti menjadi City Plaza Klender.
Mall itu dijadikan tempat bertemu sepasang sahabat lama.
Tampak seorang gadis: berkulit sawo matang dengan rambut panjang tergerai,
menunggu di depan mall dekat pagar. Gadis itu bernama Rika sedang menunggu
sahabatnya, Rosi. Sahabat yang selalu ada untuknya ketika berseragam biru
putih. Bertahun-tahun mereka berkomunikasi hanya melalui suara dan akhirnya
hari ini bisa bertatap muka.
Rika melihat jalan raya yang lengang dan sesekali melihat ke
tempat parkir. Ia ditemani gadis berseragam SPG. Gadis itu hanya diam menatap
jalanan. Rambutnya sebahu menutupi mata dan sebagian mukanya. Mereka sama-sama
terdiam.
Rika merasakan keanehan dengan gadis di sebelahnya. Bulu
kuduknya berdiri dan sesekali melihat jam tangannya. Ia melihat gadis di
sampingnya dan mengingat-ingat kapan gadis itu ada di sebelahnya. Wajah dan
tangan gadis SPG itu terlihat pucat, ia membandingkan dengan tangannya yang
terdapat pembuluh darah. Kakinya berat untuk pergi dari tempat itu, kemudian ia
berdoa dalam hati agar tetap tenang.
Sebuah tepukan di pundak dari gadis berambut sebahu dan
berwarna pirang membuatnya tersentak. Ternyata sahabat lamanya telah datang.
Mereka berpelukan dan saling bertanya kabar. Tidak lama, mereka memutuskan
untuk memasuki mall.
"Maaf, lama nunggu, ya?" Rosi menggenggam tangan
Rika sambil tertawa. "Tadi masih ada kerjaan."
"Iya, enggak apa. Ros, tadi aku agak takut dengan cewek
sebelahku, dia diam saja," celoteh Rika dengan memejamkan mata.
"Cewek yang mana? Pakai baju apa? Aku liat kamu
sendirian di situ." Rosi menatap sahabatnya dengan mata selidik.
"Pakai baju kayak pegawai mall gitu, rapi. Rambutnya
sebahu, terus kulitnya putih pucat. Aku lihat wajah ketutup sama rambutnya, dia
nggak bergerak sama sekali. Cuma lihat jalan, nggak noleh kemana-mana."
"Mungkin itu hantu SPG, dulu terbakar di sini. Kadang
dia menampakkan diri ke beberapa orang. Pakaiannya ya kayak SPG gitu, terus
badannya separuh gosong," jelas Rosi.
"Oh gitu, yang aku lihat badannya nggak gosong. Untung
tadi aku diam, enggak nyapa. Aku cuma lihat dia aja," ucap Rika dengan
lega.
"Kita ke lantai tiga yuk, aku mau beli baju," ajak
Rosi. Rika hanya tersenyum dan mengangguk.
Rika dan Rosi mengenang masa-masa SMP. Bercerita tentang
guru-guru, teman-teman dan pengalaman-pengalaman mereka. Guru yang galak, teman
laki-laki yang membuat salah tingkah ketika bertemu, juga kenakalan-kenakalan
mereka: bolos dan pergi ke kantin untuk beli jajan.
Setibanya di lantai tiga, mereka menuju departemen store di
bagian baju wanita. Ada baju tidur, kaos, kemeja dan aneka macam celana atau
rok. Rosi memilih dan mengambil beberapa kaos untuk dicoba.
"Pilih satu kaos buatmu, aku yang bayar."
"Beneran? Terima kasih. Dapat rezeki apa?" tanya
Rika yang merasa tidak percaya.
Rosi hanya tertawa. Mereka memilih kaos untuk dicoba ke
ruang ganti. Rika tampak sangat puas dengan pilihannya dan segera keluar
setelah melepas kaos pilihannya. Ia menunggu sahabatnya di luar kamar ganti.
Tidak lama, sahabatnya keluar dengan wajahnya berseri-seri.
Mereka saling menunjukkan pilihan masing-masing. Rosi
memilih kaos polos berwarna cokelat, berkerah dan berlengan panjang. Rika
memilih kaos warna merah muda dengan tulisan You Can Do This berlengan pendek.
Mereka tertawa karena pilihan mereka hampir sama, kaos polos.
Rosi tiba-tiba mengedarkan pandangan. Ia merasa tempat itu
berbeda, deretan baju dengan modelnya jaman dahulu, tata ruang departemen store
dan pakaian pegawai berbeda. Kamar ganti pun berbeda. Wajahnya berubah,
bibirnya dikatupkan rapat-rapat dan matanya melirik ke kanan kiri.
"Ada yang tidak beres di sini," gumam Rosi.
Rika melihat perubahan sahabatnya, "Ada apa, Ros?
Wajahmu ketakutan gitu."
Kedua gadis itu tersentak dengan teriakan dari luar
departemen store. Orang-orang berlarian tidak tentu arah, wajah mereka
ketakutan. Ada yang membawa barang yang sudah dibeli, ada pula mengambil
barang-barang elektronik. Dua sahabat itu berlari keluar dan menyetop seorang
SPG.
"Mbak, stop! Ada apa? Kenapa orang-orang lari
ketakutan?" tanya Rika.
"Ada kebakaran di lantai satu, terus ada kerusuhan
juga, Mbak! Maaf, aku buru-buru mau ke lantai lima."
Rika mengenali SPG itu, seperti perempuan di sebelahnya saat
menunggu Rosi. Teringat cerita sahabatnya tentang kebakaran mal tersebut.
"Sebentar Mbak. Sekarang tahun berapa?" tanya Rika lagi.
"Tahun 1998."
"Bulan apa?" cerca Rika.
"Bulan Mei. Aku harus selamatkan adik di lantai
lima!" SPG itu langsung berlari meninggalkan kedua gadis tersebut.
"Ayo kita ke lantai satu, Rik!" perintah Rosi bersamaan
dengan menarik sahabatnya. Ia sekarang berada saat mall itu akan terbakar.
Rika menurut dan mengikuti Rosi. Banyak orang-orang berlari
berlawanan arah dan berteriak-teriak, "Ayo ambil barang-barang!" Akan
tetapi, kedua sahabat itu tetap menuju lantai satu.
Rosi mengamati keadaan sekitar dan mengambil gambar keadaan
mall dari ponselnya: orang-orang yang mengambil barang-barang elektronik,
berdesak-desakan di eskalator dan banyak yang menggedor-gedor pintu lift.
Rosi dan Rika berada di lantai satu. Mereka melihat ban
terbakar, kaca di mall pecah dilempari batu, orang-orang keluar masuk dan
bagian dalam mal berkabut. Teriakan minta tolong dan ingin keluar terdengar
jelas. Api menjalar ke hiasan dinding, atap-atap toko dan melalap isi toko. Api
membakar apa pun yang menghalanginya. Ada pula yang terbakar bajunya dan tidak
ada yang menolongnya. Ia hanya teriak-teriak meminta seseorang mematikan api
pada bajunya.
Semua orang menyelamatkan diri sendiri tanpa memikirkan
orang lain. Rosi konsisten memotret setiap kejadian, sesekali melihat jam
tangannya. Saat ini pukul 6 sore, saat mall terbakar, pengunjung dan penjarah
terperangkap di dalam mall.
"Ros, masih ingat tempat balik ke zaman kita? Aku
takut." Rika bertanya setelah lima belas menit berlalu.
"Ingat, ayo kita balik ke lantai tiga!" ajak Rosi
dengan menyimpan ponsel di saku celananya. Ia ingin foto-foto sejarah nantinya
dicetak dan dijadikan arsip sejarah.
Mereka berdua berpegangan tangan sambil berlari. Orang-orang
yang mengambil barang-barang elektronik mendesak keluar. Teriakan histeris
bersahut-sahutan di setiap lantai. Kedua gadis itu tetap menerobos orang-orang
yang akan keluar mall. Mereka harus tetap bergerak menerobos gelombang manusia.
Terlihat api cepat menjalar ke lantai tiga, membakar atap
toko dan seisinya. Ada pula orang-orang yang berusaha keluar melalui jendela
dan terdengar teriakan-teriakan yang
terputus. Sesekali Rosi masih mengambil gambar toko-toko yang terbakar. Rika
yang sudah gemetaran menarik tangan sahabatnya. Mereka pun berlari ke kamar
ganti yang membawa ke tahun yang kelam itu.
Rika menarik tangan Rosi masuk ke kamar ganti. Mereka duduk
di lantai dan saling mendengar hembusan napas.
Masih terdengar teriakan dan bau asap terbakar. Tangan mereka tetap
menyatu, saling menatap dan bergeming. Tak lama mereka memejamkan mata berdoa
agar bisa kembali ke tahun 2020.
Tidak lama mereka membuka mata. Suara teriakan tidak
terdengar lagi, hanya tercium bau gosong dan busuk yang menyergap hidung. Tangan
refleks menutup hidung dan bersiap keluar kamar ganti. Di bawah pintu kamar
ganti--pintu kamar ganti tidak sampai lantai--mata mereka terbelalak melihat
lantai ada jejak kaki berwarna hitam terbentuk dari sepasang kaki yang gosong.
Tidak hanya sepasang kaki tetapi berpasang-pasang kaki hitam
yang lalu lalang. Ada satu pasang kaki yang diam di depan kamar ganti Rika dan
Rosi. Mereka saling bertatapan dan mengeratkan tangan. Wajah mereka pucat pasi.
Terdengar ketukan pelan berkali-kali. Tidak lama, pengunci
pintu bergerak tidak mengunci lagi. Pintu itu pelan-pelan terbuka dan terlihat
SPG dengan wajah separuh gosong. Ia tersenyum dengan mata tajam dan mendekati
kedua gadis itu. Mereka teriak dengan lantang dan memejamkan mata.
Ketukan pintu berkali-kali dan teriakan memanggil Rika dan
Rosi. Mereka membuka mata dan terdiam. Berbagai pikiran yang ada di kepala:
hantu yang berwajah gosong, SPG dengan wajah separuh gosong. Pandangan mereka
tertuju di pintu kamar ganti yang masih terkunci. Mereka pelan-pelan membuka
pintu dan melihat seorang karyawan departemen store tersenyum.
"Mbak enggak apa-apa? Dari tadi saya dengar Mbak
teriak-teriak," ucapnya dengan lembut.
Kedua gadis menggelengkan kepala dan saling melempar
senyuman. Keadaan sudah kembali seperti semula: susunan pakaian yang berderet,
model baju masa kini. Mereka menjawab keadaannya baik-baik saja. Pegawai
departemen store mengangguk dan berlalu. Rosi mengambil ponselnya dari saku
celana dan mengecek gambar-gambar yang diambilnya. Ternyata gambar-gambar itu
hilang, entah kemana. (Nurul. M)