Dendam Hantu Kuntilanak

 

Sosok perempuan itu terlihat duduk di salah satu tangga dan kemudian menampakkan wajahnya yang mengerikan...

 --

"Baik, Pak. Kami akan berangkat ke lokasi secepatnya," ujarku pada pimpinan perusahaan saat rapat pagi berlangsung.

 

Perusahaan tempatku bekerja, baru-baru ini berhasil memenangkan tender untuk membangun sebuah hotel di daerah pesisir Banten. Hari ini aku ditugaskan untuk meninjau proyek di kawasan tersebut. Ada masalah yang harus kami selesaikan perihal pembangunan hotel baru itu.

 

Dari rapat pagi yang baru saja selesai tadi, ada beberapa kendala yang mengakibatkan proyek kami tersendat. Salah satunya mengenai seringnya kecelakaan yang menimpa pekerja di proyek tersebut. Aku tidak sendirian berangkat ke tempat itu, tetapi bersama dengan kedua rekan kerjaku di kantor. Firman dan Rizal. Kami bertiga ingin memastikan, jika perlengkapan keselamatan kerja di proyek tersebut sudah memenuhi standar ketenagakerjaan.

 

"Ary ... kita berangkat kapan?" tanya Firman setelah rapat pagi usai.

 

"Malam ini aja, Man," jawabku, seraya menyiapkan dokumen yang akan dibawa ke lokasi proyek.

 

"Ya, udah. Nanti gue ama Rizal jemput lu jam tujuh malam," ucap Firman dan kembali ke ruangannya.

 

Siang berganti malam, suara klakson mobil terdengar dari arah depan rumahku. Aku mengintip dari balik tirai kamar, terlihat mobil milik Firman sudah terparkir di halaman rumah. Aku bersiap dan bergegas untuk menghampiri mereka. Namun, langkahku terhenti sejenak, saat embusan hawa dingin terasa menerpa leher belakangku.

 

Entah angin dari mana, tetapi embusannya seolah-olah menelusuk wajah dan leherku. Ada perasaan bergidik saat itu. Namun, aku tepis dan tetap berpikir positif.

 

'Pyarrr!'

 

Aku terkejut saat mendengar suara benda pecah dari arah ruang keluarga. Langkahku mengikuti asal suara tersebut dan mendapati salah satu bingkai foto keluarga terjatuh di lantai. Aku mengambil bingkai itu dan tidak sengaja terkena serpihan kaca dari benda tersebut. Ibu jariku sedikit mengeluarkan darah akibat kejadian itu.

 

Aku membalik bingkai tersebut dan melihat foto siapa yang terjatuh itu. Ternyata, foto almarhum Kakek dari keluarga Mama. Kakek meninggal sekitar dua puluh tahun yang lalu, tepat saat ulang tahunku yang keenam. Aku berniat untuk membersihkan foto tersebut dari sisa kaca yang sebagian telah pecah. Namun, secara tak sengaja, tetesan darah dari ibu jariku mengenai wajah foto almarhum Kakek.

 

Suara klakson dari mobil Firman terus-menerus terdengar. Mungkin Firman dan Rizal sudah tidak sabar menungguku keluar. Aku meletakkan bingkai itu di atas meja dan segera bergegas ke luar rumah. Sebelumnya, aku meminta pembantu rumah untuk membersihkan serpihan kaca yang masih berserakan di lantai itu.

 

Perjalanan kami menuju lokasi proyek berjalan lancar tanpa kendala. Arus kendaraan pada malam hari yang tak begitu padat, memudahkan kami untuk segera mencapai tempat tujuan. Kurang lebih empat jam perjalanan, kami sudah tiba di daerah Pandeglang, Banten. Kami bertiga istirahat di sebuah warung makan sederhana, untuk makan dan melawan kantuk.

 

Dari GPS yang kami pasang di mobil, lokasi proyek masih sekitar empat puluh menit dari tempat kami istirahat saat ini. Aku memesan tiga gelas kopi panas, sebagai pengusir kantuk dan hawa dingin di daerah pesisir pantai ini.

 

"Pak, daerah Cisudang apa masih jauh dari sini?" Firman bertanya kepada pria paruh baya, pemilik rumah makan.

 

"Masih sekitar satu jam kalau dari sini, Kang. Memang Akang-akang ini mau ke mana?" tanya pria itu dengan logat khas Sunda.

 

"Kami mau ke lokasi proyek pembangunan hotel baru yang ada di sana, Pak," jawab Rizal.

 

"Ho–hotel angker itu?" Pria itu bertanya dengan terbata.

 

"Angker? Maksudnya, Pak?" Aku penasaran dengan perkataan pria itu.

 

Pria paruh baya itu mengambil sebuah kursi plastik dan duduk di dekat kami. Ia mengenalkan diri pada kami. Pak Deden, begitulah pria itu menyebutkan namanya. Pak Deden bercerita pada kami, mengenai daerah tempat pembangunan proyek kami tersebut.

 

Dari cerita beliau, dulunya tanah tempat proyek kami adalah sebuah pabrik penggilingan padi yang sangat besar. Namun, entah kenapa sudah puluhan tahun pabrik itu tak lagi difungsikan oleh pemiliknya. Menurut Pak Deden, dari desas-desus yang beredar. Ada penampakan makhluk halus yang mengganggu para pekerja di pabrik tersebut. Bahkan, makhluk itu tidak segan-segan menampakkan wujudnya di hadapan mereka.

 

Setelah merasa cukup untuk beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan ke lokasi proyek. Aku sengaja memilih tempat duduk di belakang, sedangkan Rizal di samping Firman yang duduk di balik kemudi. Jendela mobil yang kubuka sedikit, membawa angin laut berembus masuk ke dalam mobil. Udara pesisir membuatku terlena akan rasa kantuk dan perlahan membuaiku untuk memejamkan mata.

 

'Pulanglah, Cucuku!'

 

Aku terkejut dan terbangun saat mendengar sebuah bisikan yang sangat jelas sekali. Aku yang masih setengah sadar, mencoba untuk memastikan asal suara tersebut. Suara yang begitu berat, seperti suara seorang pria tua yang tak asing bagiku. Namun, aku tak bisa mengingat siapa pemilik suara itu.

 

Sebuah ruangan yang terbuat dari kontainer, telah dipersiapkan untuk kami bertiga. Ruangan yang di dalamnya sudah lengkap dengan fasilitas seperti sebuah kantor. Ada AC, TV, komputer, dan beberapa peralatan kantor lainnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00. Rasa kantuk yang tadi terasa selama perjalanan, tiba-tiba sirna begitu saja. Aku mencoba keluar untuk sekadar merokok dan menikmati udara malam. Siapa tahu dengan begitu, aku bisa merasakan kantuk, pikirku.

 

'Tolongg! Jangaannn, aargghhh!'

 

Aku mendengar sebuah jeritan seorang perempuan dari arah dalam proyek. Hotel ini masih dalam tahap penggarapan. Dari delapan lantai yang direncanakan, kini baru berdiri tiga lantai dan masih terbuka tanpa sekat di setiap lantainya. Aku mencoba masuk dan mencari asal suara itu. Bermodalkan senter yang aku dapatkan dari ruangan tadi, perlahan aku menyusuri ke dalam bangunan tersebut.

 

'Hihihiiiyy ... Hihihiiiyy!'

 

Suara tawa tanpa wujud terngiang jelas di telingaku. Tanpa sadar, aku sudah masuk terlalu jauh ke dalam bangunan ini. Saat hendak berbalik badan dan keluar dari ruangan. Senter yang sedari tadi menyala terang, mendadak padam dan tak berfungsi. Aku yang belum mengenal bangunan ini, hanya mengandalkan cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah dinding yang masih dalam tahap pembangunan.

 

Netraku samar menangkap sosok perempuan yang sedang meringkuk, di bawah salah satu tangga menuju lantai dua bangunan ini. Isak tangis terdengar lirih dari perempuan tersebut. Antara takut dan penasaran, aku mencoba untuk tetap menggunakan logikaku. Perlahan aku mendekati sosok perempuan itu.

 

"Arrgghh!" Aku berteriak saat mendapati sebuah tangan menepuk pelan pundakku.

 

"Ngapain malam-malam di sini, Pak?"

 

Aku berbalik badan dan melihat seorang pria, dengan mengenakan seragam satpam sedang menatapku.

 

"Itu, Pak. Tolongin perempuan itu, kasihan!" ujarku pada satpam proyek itu.

 

"Perempuan? Perempuan siapa, Pak?" Lelaki berbadan tegap itu bertanya padaku.

 

"Itu, perempuan yang di san ...." Aku mengarahkan telunjukku ke tempat sosok yang sedang meringkuk tadi. Namun, aku tak meneruskan ucapanku, saat tak mendapati siapa-siapa di tempat itu.

 

"Mungkin Pak Ary kelelahan. Silakan istirahat, Pak. Mari saya antar ke ruangan," ucap satpam itu ramah.



Sinar mentari hadir menyambut pagi. Aku dan Firman melakukan pengecekan ke lapangan. Sementara itu, Rizal sedang sibuk mengaudit laporan selama proses pembangunan proyek ini. Aku tidak menemukan kejanggalan dalam segi keamanan kerja di proyek ini. Mulai dari alat, kelengkapan pekerja, dan hal-hal kecil lainnya sudah sesuai prosedur keselamatan kerja. Namun, ada hal lain yang membuat janggal pikiranku. Untuk proyek sebesar ini, jumlah pekerja terlihat sedikit sekali.

 

"Pak, kenapa yang kerja cuma segini? Pantas saja sering terjadi kecelakaan. Mungkin karena kurang koordinasi dan faktor lelah yang mengakibatkan sering terjadi kecelakaan." Aku memanggil salah satu mandor proyek dan menanyakan perihal kecelakaan yang sering terjadi di proyek ini.

 

"Dulu banyak banget, Pak. Tapi, sejak beberapa minggu ini banyak pekerja yang tiba-tiba sakit dan mengundurkan diri. Ditambah, sudah dua pekerja yang meninggal saat sedang istirahat siang." Mandor bertubuh tambun itu menjelaskan padaku dan Firman.

 

"Kok, bisa lagi istirahat siang meninggal?" tanya Firman.

 

"Saya sendiri kurang tahu penyebabnya, Pak. Cuma dari olah TKP dan sebagian saksi waktu itu. Dinding yang terletak di sebelah tangga ujung sana, tiba-tiba rubuh dan menimpa mereka." Pria itu mengarahkan telunjuknya ke sebuah tangga yang terletak di ujung timur bangunan ini.

 

Aku kembali teringat akan kejadian semalam. Apa mungkin tangga yang dimaksud adalah tangga di mana aku melihat sosok perempuan yang kutemui semalam? Apa mungkin juga, ada hubungannya sosok itu dengan kecelakaan beberapa pekerja yang ada di sini? Sejumlah pertanyaan mengganggu pikiranku saat ini.

 

"Ry, Man! Sini makan siang dulu!" seru Rizal padaku dan Firman yang sedang mengambil beberapa foto sisi bangunan ini.

 

Aku dan Firman menghampiri Rizal dan berencana makan siang bersama. Begitu masuk ke dalam ruangan, aku dan Firman saling menatap saat melihat beraneka jenis masakan sudah terhidang di meja kerja.

 

"Lu mau hajatan, Zal?" tanya Firman.

 

"Lah, kok nanya gue? Tuh, tanya ke Ary!" balas Rizal.

 

Aku yang masih heran dengan banyaknya masakan di meja, semakin bertambah heran mendengar ucapan Rizal.

 

"Gue? Apa urusannya sama gue?" tanyaku pada Rizal.

 

"Tadi ada cewek cantik ke sini. Katanya bawain makan siang buat Kang Ary. Lu pernah ke sini, Broo? Pantes aja udah kenal sama cewek-cewek di sini," jawab Rizal, yang semakin membuatku tak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.

 

"Sebentar ... lu bilang ada cewek nganterin makanan buat gue? Gue aja tau tempat ini baru sekarang. Kalau gue udah pernah ke sini. Ngapain semalem capek-capek pasang GPS!" ucapku pada Rizal dan Firman.

 

Firman yang sedang asyik melahap mie goreng di atas meja, seketika berhenti dan menatapku tajam. Begitu juga dengan Rizal, yang sedang menikmati sebuah gulai kambing yang tersaji di sana.

 

"Nah, terus ... yang ngirim makanan tadi, sia ...."

 

"Hoeekkk!"

 

Rizal tak meneruskan ucapannya. Ia dan Firman tiba-tiba memuntahkan makanan yang sudah mereka santap. Mataku terbelalak, saat menyadari makanan yang tersaji di meja kini berubah menjadi berbagai binatang menjijikkan. Mie yang sebelumnya terlihat lezat, kini terlihat menjadi sekumpulan cacing tanah yang masih menggeliat di atas piring. Beberapa sayuran dan lalapan yang tadinya hijau dan segar, berubah menjadi ratusan belatung yang bergerak-gerak menjijikkan.

 

Aku memanggil Kang Jupri, pekerja bagian kebersihan di proyek ini untuk membuang semua binatang menjijikkan itu. Firman dan Rizal terlihat pucat setelah menyantap makanan aneh tadi. Aku meminta tolong kepada salah satu mandor proyek, untuk mengantar mereka berdua ke rumah sakit terdekat.

 

Malam ini sepertinya aku harus tidur seorang diri. Dari informasi yang aku dapat dari mandor proyek. Firman dan Rizal terpaksa harus rawat inap di rumah sakit, dikarenakan ada gangguan pada lambung dan tenggorokan mereka.

 

'Hihihiiiyy ... Hihihiiiyy!'

 

Suara tawa mengerikan itu terdengar lagi olehku. Entah mendapat keberanian dari mana, aku keluar dan mencari asal suara tersebut. Emosiku sudah mengalahkan logika. Aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini.

 

Waktu menunjukkan pukul 22.15. Aku mengambil senter dan mengikuti suara tawa yang terus menerus terngiang dalam telingaku. Langkahku terhenti di sebuah tangga yang sudah tak asing lagi bagiku.

 

"Akhirnya kamu datang juga! Malam ini kamu harus mati anak muda! 'Hihihiiiyy!"

 

Tubuhku bergetar hebat saat tiba-tiba sesosok kuntilanak dengan rambut terurai melayang di hadapanku. Sosok dengan wajah penuh sayatan luka dan darah segar yang mengalir dari kelopak matanya yang berlubang, membuatku hanya bisa bergeming. Kakiku terasa berat untuk melangkah, bahkan untuk berteriak saja aku tak mampu melakukannya.

 

"Si–siapa kamu? A–apa mau kamu?" tanyaku terbata.

 

"Kau mirip sekali dengannya! Hari ini juga kau akan mati di tanganku. Dendamku akan selamanya menghantui kalian!" ancam sosok itu padaku.

 

"A–apa salahku? A–ku ti–tidak mengenalmu," ujarku pada sosok itu.

 

"Hihihiiiyy ... Hihihiiiyy!"

 

Sosok itu melayang dan mendekat padaku. Kukunya yang panjang, hitam, dan runcing mengarah tepat ke wajahku. Aku hanya pasrah saat sosok menyeramkan itu menyerang ke arahku. Namun, aku merasakan ada kekuatan yang mendorongku hingga tersungkur di tanah.

 

Aku bangkit dan melihat seorang pria yang sangat aku kenal saat masih kecil dulu. Namun, wajahnya saat ini terlihat lebih muda daripada saat terakhir aku melihatnya.

 

"Ka–kakek!" seruku pada pria yang kini berdiri di hadapan sosok kuntilanak itu.

 

"Dharma! Manusia keparat! Aku akan menghabisi keturunanmu satu per satu. Hihihiiiyy!" seru kuntilanak itu pada Kakek.

 

"Cucuku tak ada hubungannya denganmu! Ini semua salahku! Biarlah aku yang menanggung dosa ini. Jangan libatkan dia, Ratih. Dia tidak bersalah!" ujar Kakek kepada sosok kuntilanak di depannya.

 

Aku semakin tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Kakek memanggil sosok itu Ratih dan ada hubungan apa Kakek dengannya?

 

"Hihihiiiyy ... Hihihiiiyy! Mati kau anak muda!" Sosok itu kembali menyerangku. Namun, lagi-lagi arwah Kakek menyelamatkanku dengan mengempaskan tubuhku.

 

"Pergilah, Cu! Panggil Ustaz Sobri dan gali tanah tepat di bawah tangga ini! Cepat!" perintah Kakek padaku.

 

Aku segera berlari keluar dari tempat itu. Dengan napas tersengal-sengal, aku menceritakan semua kejadian yang baru saja aku alami itu, kepada dua orang satpam yang sedang bertugas.

 

Pagi harinya, Ustaz Sobri, beberapa warga sekitar, dan delapan petugas dari polsek setempat datang ke lokasi proyek. Firman dan Rizal yang sudah merasa sehat juga sudah bergabung bersamaku. Disaksikan oleh pihak berwajib dan warga, beberapa pekerja melakukan penggalian di tempat yang sudah aku tunjukkan.

 

Apa yang ditemukan di tempat itu, membuat aku dan semua orang yang ada di lokasi terkejut. Sebuah jasad manusia yang sudah menjadi tulang belulang ditemukan di bawah tangga itu. Ustaz Sobri terlihat membacakan doa-doa ketika jasad yang tak sempurna itu diangkat dari dalam tanah. Raut kesedihan, tampak terlihat dari wajah Ustaz Sobri. Terlebih saat ia mengambil sesuatu dari dalam tanah tempat jasad itu ditemukan. Sebuah kalung dengan liontin bermotif hati yang masih terlihat bentuknya, meski sudah tertimbun tanah cukup lama.

 

Untuk sementara waktu, pihak kepolisian menyegel lokasi proyek untuk proses penyelidikan. Aku, Firman, dan Rizal berencana untuk pulang malam ini juga. Namun, Ustaz Sobri meminta kami untuk singgah sebentar di rumahnya sebelum kembali ke Jakarta.

 

"Nak Ary ... apa betul Nak Ary ada hubungan saudara dengan Pak Dharma?" tanya Ustaz Sobri padaku saat kami bertamu di kediamannya.

 

"Betul, Ustaz. Ustaz Sobri kenal dengan kakek saya?" jawabku ramah.

 

"Kenal sekali, Nak. Kenal baik. Bagaimana kabar Pak Dharma sekarang?" Ustaz Sobri kembali bertanya padaku.

 

"Kakek sudah meninggal. Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, karena kecelakaan mobil. Dari cerita Mama saya, anehnya saat itu jalanan sepi dan entah kenapa, mobil kakek tiba-tiba menabrak sebuah pohon di tepi jalan. Dari para saksi yang ada di tempat kejadian, sempat melihat kakek membuka jendela mobil dan mendengar kakek berteriak minta tolong. Itu yang saya dengar dari Mama dan keluarga yang lain, Ustaz." Aku menjelaskan kepada Ustaz Sobri tentang kematian Kakek.

 

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun," ucap Ustaz Sobri, seraya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan.

 

Aku juga menceritakan kejadian yang kualami malam itu kepada Ustaz Sobri. Pria tua itu berkali-kali mengucap istigfar, seraya mengusap bulir air mata yang tampak menggunung di sudut matanya.

 

"Ustaz, maaf ... apa ustaz kenal dengan perempuan bernama Ratih?" tanyaku kepada Ustaz Sobri.

 

"Dia adik perempuanku satu-satunya. Dulu Ratih bekerja sebagai pembantu di pabrik penggilingan padi milik kakekmu. Namun, entah kenapa Ratih tanpa pamit pergi ke Jakarta dan hanya meninggalkan surat kepada kami keluarganya," tutur Ustaz Sobri.

 

"Ja–jadi ... pabrik itu dulunya milik kakekku? Lalu sosok yang kemarin aku lihat, berarti adalah sosok Ratih? Lalu mayat yang terkubur di bawah tangga itu, jangan-jangan ...." Aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

 

"Semua ada ketetapannya dari Sang Kuasa, Nak Ary. Biar nanti kita menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian saja. Barang siapa menabur kebaikan, dia akan menuai keberkahan. Begitu juga sebaliknya. Barang siapa yang menabur keburukan, maka hanya bencana yang akan ia dapatkan. Baik dunia maupun akhirat." Ustaz Sobri tersenyum simpul pada kami bertiga.

 

Dua minggu setelah kejadian itu. Proyek kembali berjalan dan kali ini tanpa ada kendala yang berarti. Tidak ada lagi kecelakaan kerja dan sejenisnya. Warga sekitar pun tidak lagi mendapat teror dari sosok kuntilanak jika melewati lokasi proyek.

 

Ada satu hal yang membuat aku dan juga keluarga besarku terkejut. Berita yang kami dapat dari pihak berwajib. Almarhum Kakek adalah tersangka tunggal atas pembunuhan yang terjadi, di pabrik penggilingan padi miliknya dulu. Korbannya adalah seorang gadis muda berusia sembilan belas tahun bernama Ratih. Dari semua itu, yang paling mengejutkan adalah, Ratih saat itu meninggal dan dikuburkan oleh Kakek dalam keadaan sedang mengandung.

 

Aku dan beberapa perwakilan keluarga berencana untuk silaturahmi ke keluarga almarhumah Ratih. Aku harap dendam atas luka lama ini, berakhir sampai di sini.

 

Ada masanya sisi kelam seseorang di masa lalu akan tersamarkan dengan kebaikannya di masa depan. Namun, sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga.

 

Tidak ada kejahatan yang sempurna, pasti akan ada jejak yang ditinggalkannya.





Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال