Rumah Nenek yang Menyeramkan

Nenek terlihat memakai kemben sedang menampi beras, tapi,

.... Tanpa kepala..!!!

...

Ku lirik celah jendela, hari masih gelap. Tetapi aku mendengar bunyi gaduh di dapur. Bersamaan dengan itu juga aku kebelet buang air kecil. Tanpa melihat jam lagi aku langsung bergegas menuju WC. Saat di dapur, aku melihat Nenekku sedang menampi beras dengan bertapih kemban.

 

"Ohh, mungkin sudah subuh." Kataku dalam hati sambil berlalu. Kebiasaan Nenekku kalau sudah subuh beliau sudah bangun dan mengerjakan pekerjaan dapur, seperti menampi beras..

 

Saat jongkok, celanaku terasa mengganjal. Saat ku raba,ternyata aku membawa HP di dalam saku. Selesai buang air, aku melirik jam di HP. Betapa terkejutnya aku saat melihat waktu baru menunjukkan pukul 2 malam. Tak pernah ku lihat Nenek bangun seawal ini, apalagi hanya untuk menampi beras, yang biasanya dilakukan nya pada siang hari.

 

Lalu aku berjalan menuju dapur. Lalu apa yang kulihat?? Nenek ku masih dengan bertapih kemben sedang menampi beras, tapi.... Tanpa kepala..!!!  Persendianku terasa lemas, dan akupun jatuh pingsan.

 

Sebenarnya itu bukanlah kejadian pertama yang ku alami. Aku sering mengalami kejadian menyeramkan semenjak aku tinggal di rumah nenek. Orang tuaku bekerja di luar kota, dan berencana membangun rumah di samping rumah nenek. Oleh karena itu, aku tinggal bersama Nenek sampai rumah kami selesai dibangun.

 

Kejadian menyeramkan pertama kali ku alami saat aku baru pulang mengerjakan PR di rumah temanku hingga adzan maghrib berkumandang. Saat akan masuk ke dalam rumah, dari luar aku melihat seorang perempuan mondar-mandir dari kamar Nenek.

 

Aku mengira kami kedatangan tamu. Begitu masuk, tak kudapati perempuan tadi di manapun. Di kamar mandi tidak ada, apalagi di dalam kamar. Aku baru ingat, kalau Nenek dan Kakekku selalu melaksanakan shalat Maghrib di Mesjid, dan rumah saat itu dalam keadaan kosong. Bulu kudukku meremang.

 

Baru satu langkah aku berjalan, aku mendengar suara langkah kaki dari dapur dan semakin dekat. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari keluar dan saat menoleh, tak ada siapapun di dalam sana.

 

Tak sampai di situ, kejadian aneh sering terjadi semenjak itu. Mulai dari bunyi derap langkah kaki di ruang tamu setiap malam jum'at dan saat waktu menunjukkan pukul 2 malam, suara anak kecil menangis, dan Kakekku yang sering mengigau.




 Aku merasa tertarik dengan cerita Kakek yang mengaku sering memimpikan hal yang sama setiap malam. Di dalam mimpinya, Kakek merasa kepalanya ditindih oleh sesosok makhluk yang berwajah Babi berbadan manusia. Itulah yang membuat Kakek sering mengigau dengan melafadzkan adzan, yang membuat kami terbangun.

 

Kejadian itu terus berulang kali terjadi, dan puncaknya saat Tanteku yang menjadi TKI di Malaysia pulang ke rumah. Saat itu Tante sedang hamil dan Suaminya menyuruhnya untuk pulang kampung.

 

Kamar Tanteku berhadapan dengan kamar Nenek. Aku masih ingat betul saat sosok perempuan yang mondar mandir keluar masuk kamar Nenek itu terakhir kali masuk ke kamar Tanteku, dan tak keluar lagi. Aku sebenarnya enggan untuk menerima ajakan Tanteku yang mengajakku untuk tidur dengannya. Tapi,karena Tante sangat baik padaku, akhirnya mau tak mau aku mengiyakan permintaannya.

 

Jadilah malam itu aku tidur dengan Tanteku. Saat mata setengah mengantuk setengah sadar, aku merasa tempat tidur nya bergetar, makin lama semakin kuat membuat aku dan tanteku terbangun karena kaget. Begitu melihat, di ujung kaki kami sudah muncul sosok perempuan  tengah mengawasi kami sambil tangannya mencoba meraih tangan Tanteku. Sontak saja Tanteku komat kamit membaca do'a,sedangkan aku diam tak bergerak saking takutnya. Tak lama kemudian sosok itu menghilang.

 

Kakek dan Nenek yang mendengar bunyi gaduh langsung menuju kamar kami. Didapati nya kamar kami sudah berantakan, dan Tanteku menangis mungkin karena ketakutan.

 

"Aduh..!! Ibu lupa kalau kamu sedang hamil. Ibu tidak menaruh pinang merah di sudut kamar. Pak, besok ambilkan pelepah pinang merah, ya?? Untuk Sinta. Kalau tidak Dia pasti mengganggu terus." Nenek berbicara sambil mencoba menenangkan Tante.

 

"Nenek... Tau soal hantu itu???" Mataku membesar mendengar ucapan nenek. Nenek hanya terdiam.

 

Siang harinya, Kakek pulang dari kebun dengan membawa pelepah pinang merah.  Aku terus mendesak Nenek agar mau menceritakan perihal Hantu Perempuan itu. Karena terus di desak,akhirnya Nenek pun bercerita.

 

" Makhluk itu sudah turun temurun dari Buyutmu. Kalau orang zaman dulu,saat sedang membangun rumah,biasanya di tiap sudut rumah akan ditaruh sejenis jimat,yang biasanya dijimat tersebut tersimpan makhluk gaibnya. Tujuan awalnya hanya untuk menjaga rumah, tidak mengganggu Tuan Rumah. Makanya kalau rumah ini kosong, orang yang lewat akan melihat sosok itu berjalan mondar-mandir di dalam rumah. Bukan hanya kau saja yang bisa melihatnya."

 

"Lantas, mengapa sekarang dia malah mengganggu??" Aku kembali bertanya.

 

Nenek menarik nafas panjang,  "Dulu Datuk mu berpesan agar Nenek menjadi generasi penerus untuk makhluk itu. Tidak boleh ditinggalkan. Tapi Nenek dari awal memang tidak setuju, jadi Nenek abaikan saja. Ternyata malah berbalik mengganggu orang rumah."

 

"Lalu bagaimana cara menghilangkan nya,Nek? Aku gak mau terus-terusan di ganggu hantu itu." Aku mulai menangis, membayangkan kalau seandainya hantu itu terus mengganggu.

 

"Makhluk itu tidak bisa hilang. Walau bagaimana pun kita membacakannya Do'a. Karena makhluk itu sudah ada sebelum kita ada. Hanya buyutmu yang tau cara mengusir makhluk itu. Tapi Buyutmu tak mengajarkan caranya kepada anak cucunya." Nenek bicara dengan santay, sedangkan aku semakin menangis ketakutan.

 

"Jadi???????"

 

"Ya kita biarkan saja dia berdampingan dengan kita. Belajarlah terbiasa dengan gangguannya. Tak perlu di urus. Nanti dia akan mencari Tuan baru yang mau mengurusnya, itupun harus dari keturunan Buyutmu juga, bukan orang lain. Banyaklah berdo'a dan jangan lupa shalat." Pesan terakhir Nenek membuat lututku lemas. (Kiki Radhasari) 

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال