Istri yang Terkena Santet Alip Lap

“Rumah ini sudah dikuasai oleh jin. Dan jin-jin inilah yang mempengaruhi istri Mas Ikromi”

...



Bukan hanya aku yang terkejut dengan keputusan Dewi, tapi juga keluarga besarnya. Ibu dan adik-adik iparku semua tidak percaya tiba-tiba istri yang telah menemaniku hampir lima belas tahun, mengajukan gugatan cerai. Tiada angin ataupun badai dalam rumah tangga kami. Bahkan aku yang sering mengalah dengan perubahan sikapnya selama hampir satu tahun ini.

 

“Kau sudah gila, Wik? Setan mana yang membuatmu berpikir seperti itu?” bentak Ibu mertua. Aku sengaja meminta Mama datang ke Jakarta. Masalah ini sangat serius. Aku tak tahu lagi harus bersikap apa. Istriku tidak mau bicara saat aku tanyakan alasannya meminta cerai.

 

“Aku tidak bahagia, Ma. Pernikahan ini menyiksaku!” Itulah alasan yang dikemukakannya.

 

“Aneh? Tidak masuk akal. Mama bukan setahun dua tahun mengenal Romi, suami kamu. Kalian hampir lima tahun tinggal bersama Mama di Semarang. Dan Mama tahu persis Romi itu suami yang baik dan bertanggung jawab. Dia mencintai dan menyayangimu kamu dan juga anak-anak kalian,” bantah Ibu mertua. Memang benar. Hampir lima tahun kami tinggal bersamanya di Semarang. Saat itu kami belum bisa mandiri. Mama memiliki alasan yang kuat. Beliau tidak ingin kami mengontrak rumah.

 

“Hidup ngontrak itu susah. Sedikit-sedikit pindah. Nanti saja kalian hidup mandiri jika sudah mempunyai rumah sendiri.” Itulah alasan Mama.

 

Apa yang dikatakan Mama memang benar. Selama tinggal bersamanya, aku adalah menantu terbaik bagi beliau. Meskipun Mama memiliki tiga orang menantu laki-laki, tapi selalu aku yang dibanggakannya. Malah terkadang sikapku dijadikan contoh bagi anak-anak lelakinya dan juga menantu yang lain.

 

“Contoh tuh Mas Romi.” Kalimat itu sering terlontar dari mulut Mama saat menasehati anak dan menantunya.

 

Jadi boleh dikatakan aku adalah menantu yang dianggap Mama sepuluh betul. Makanya Mama kaget saat aku menelepon dan menceritakan tentang Dewi yang melayangkan gugatan cerai padaku.

 

“Kalian baik-baik saja kan, Rom?” tanya Mama ketika aku meneleponnya.

 

Jujur aku katakan bahwa selama ini tidak ada yang salah menurutku. Namun aku ceritakan juga perubahan Dewi selama hampir setahun ini.

 

“Kenapa kamu tidak pernah cerita? Kan mama bisa menasehati dia,” tanya Mama.

 

“Romi pikir, biarlah ini masalah kami berdua, Ma. Lagipula mungkin Dewi ingin mempunyai aktivitas di luar,” jawabku.

 

Memang perubahan besar yang terjadi pada Dewi justru saat aku memberinya ijin untuk menjalankan bisnis butik milik salah seorang temannya. Aku pikir, biarlah istriku memiliki kegiatan di luar rumah. Kasihan selama ini dia hanya mengurusi rumah dan anak-anak saja. Selain itu agar istriku mempunyai uang sendiri untuk memenuhi keinginannya.

 

“Lumayan loh Mas penghasilannya. Apalagi aku sebagai pimpinannya. Gaji pokoknya saja empat juta. Belum komisi dan bonus lainnya,” ucapnya antusias kala merayuku untuk meminta ijin.

 

“Iya deh! Tapi ingat ya. Anak-anak tetap menjadi fokus utama. Jangan karena sibuk di luar, anak-anak jadi terbengkalai,” nasehatku kala itu.

 

“Siap Bisa!” sahutnya sambil tertawa riang dan memelukku erat.

 

Awal-awalnya memang Dewi bisa membagi waktu antara pekerjaan dan urusan rumah tangga. Tapi lambat laun ia mulai kewalahan. Untunglah ketiga anak kami sudah besar. Yang bungsu saat ini kelas 3 SD. Sementara si sulung kelas 2 SMP. Jadi tidak terlalu merepotkan bagi Dewi. Malahan aku memberinya ijin saat ia mengusulkan agar kami menambah PRT. Kami memang sudah memiliki seorang PRT. Tapi tugasnya hanya mencuci pakaian dan menstrika. Sedangkan urusan masak dan beres-beres rumah, selalu dikerjakan sendiri oleh Dewi. Terkadang aku dan anak-anak juga ikut membantunya.

 

Perubahan drastis istriku terjadi sejak enam bulan terakhir. Dia sering marah-marah. Apalagi terhadap anak-anaknya. Ketiga anak kami mulai mengeluh dengan perubahan Mamanya. Begitu juga sikapnya terhadapku. Mulai ketus dan kehilangan sikap hormatnya. Bahkan hampir tiga bulan ini kami sama sekali tidak melakukan hubungan suami istri. Berbagai macam alasannya saat aku berusaha mendekatinya. Dan aku mencoba untuk bersabar. Mungkin memang ada kendala dalam pekerjaannya.

 

Sebagai suami, aku bukanlah tipe orang yang pendiam dan masa bodoh. Beberapakali aku ajak Dewi untuk diskusi. Masalah apa yang dihadapinya dalam pekerjaan. Tapi dia selalu menolak. Menurutnya aku tak akan mengerti apa yang menjadi masalahnya.

 

Perubahan yang lainnya adalah dia sering pergi ke luar kota. Alasannya untuk pekerjaan. Padahal aku tahu persis butik itu tidak memiliki cabang di luar Jakarta. Kalau pun untuk mitra bisnis, biasanya mereka lah yang datang ke Jakarta. Ini aku ketahui sendiri dari Mbak Anne, pemilik butik tersebut.

 

“Mungkin Dewi ada keperluan lain, Rom. Soalnya kalau untuk mitra bisnis, mbak sendiri yang handle,” jelas Mbak Anne saat aku tanyakan hal ini.

 

Aku tidak ingin terlalu curiga. Aku masih menaruh kepercayaan yang besar pada istriku. Tidak mungkin ia selingkuh. Aku kenal betul sifatnya sejak awal kami berkenalan. Dewi bukan tipe wanita yang mudah menjatuhkan hati pada laki-laki. Bahkan lima belas tahun pernikahan kami, aku selalu merasakan kehangatan dan kemesraannya sebagai istriku. Malahan pernah aku iseng menggodanya dengan mengatakan kalau dia mencintai pria lain di belakangku. Saat itu dia marah dan merajuk.

 

“Kalau Mas sampai curiga aku selingkuh dengan laki-laki lain. Lebih baik bunuh saja aku, Mas. Bagiku pria yang ada dalam hatiku itu cuma kamu, Mas,” ucapnya sambil mencucurkan air mata. Jadi aku tak pernah mempunyai pikiran kalau istriku selingkuh.

 

Puncaknya ialah saat Dewi mengatakan ingin bercerai dariku. Jelas aku sangat terkejut. Awalnya aku pikir dia hanya main-main. Tapi ternyata tidak. Dia sudah mendaftarkan gugatan cerai di pengadilan agama. Ini yang membuatku makin bingung.

 

Sikap Ibu mertua dan adik-adik iparku semuanya menentang keinginannya itu. Bahkan Mama mengancam tidak akan mengakuinya sebagai anak jika memang akhirnya gugatan cerai itu terkabul.

 

Sejak niatnya itu diutarakan padaku, hubungan kami mulai tidak harmonis lagi. Praktis Dewi menolak bicara denganku. Bahkan dia memilih pisah kamar. Anak-anak pun ikut jadi korban. Ia seakan tidak mau lagi mengurusi ketiga anak kami.

 

Dewi makin jarang pulang ke rumah. Setiap aku bertanya dia pasti menjawabnya dengan ketus.

 

“Bukan urusanmu!”

 

Aku hanya mengelus dada. Aku tidak ingin ribut-ribut di depan anak-anak. Aku tahu ada yang tidak beres semua ini. Dan puncak kekesalanku saat anak-anak cerita kalau Mamanya pulang bersama seorang laki-laki dan ikut masuk ke dalam kamarnya.

 

Sesabar-sabarnya aku, jelas tidak ingin harga diriku sebagai suami diinjak-injak. Hari itu kami ribut besar. Untunglah anak-anak sudah aku minta pergi dulu ke tempat Tantenya di Bekasi. Aku meminta kejelasan pada Dewi. Siapa laki-laki yang diajaknya masuk ke dalam kamar di rumah kami.

 

“Dia Rudi. Pacarku. Memangnya kenapa?” jawabnya menantang.

 

Plaaaak! Sebuah tamparan mendarat telak di pipinya. Inilah pertama kali aku melakukan kekerasan pada istriku. Jujur aku menyesal. Tapi inilah batas kesabaranku.

 

Anehnya Dewi tidak marah. Dia hanya menatap sinis dan berkata, “Aku akan pergi dari rumah ini. Urusan perceraian kita selesaikan nanti.” Dan memang ia pun pergi meninggalkan rumah.

 

Saat aku ceritakan semuanya ini pada Ibu mertua, beliau menangis sejadi-jadinya. Juga adik-adik iparku. Mereka semua marah dan berusaha akan mencari pria itu dan memberinya pelajaran.

 

“Aku yakin Mbak Dewi kena guna-guna pria itu, Mas!” ucap Santi – adik bungsu istriku.

 

Aku menarik napas panjang. Aku sama sekali tidak paham hal-hal yang seperti itu. Santi berjanji akan berupaya menyelidiki apa yang terjadi pada istriku. Saudara yang lain pun berpikiran sama. Sebab menurut mereka perubahan Dewi sangatlah aneh. Apalagi mereka saudara kandung. Jelas mengenal betul kepribadian istriku.

 

Sore itu Mas Bambang – kakak tertua istriku dan Santi, datang bersama seorang ustadz. Menilik dari penampilannya, terlihat masih sangat muda. Mungkin usianya masih di bawahku. Namanya Ustadz Khairul. Menurut keterangan Mas Bambang, dia ini berasal dari Banjarmasin. Masih memiliki keturunan darah suku Dayak. Dan Ustadz Khairul ini banyak mengetahui tentang ruqyah dan seluk beluk ilmu hitam.

 

Meskipun masih sangat muda, tapi aku sangat kagum dengan tutur bahasanya yang lembut dan sopan. Setiap kalimat yang terucap dari mulutnya, seperti sudah disusun dengan rapi. Wajahnya pun bersih berseri-seri. Tidak ada sedikitpun kesan angkuh dan sombong.

 

Baru saja dia masuk ke rumah kami, Ustadz Khairul sudah merasakan ada sesuatu yang aneh.

 

“Rumah ini sudah dikuasai oleh jin. Dan jin-jin inilah yang mempengaruhi istri Mas Ikromi,” ujarnya. Dia menyebut lengkap namaku.

 

“Apa sebenarnya yang terjadi pada istri saya?” tanyaku.

 

Ia menarik napas dalam-dalam. Terlihat jelas kalau dirinya sedang berkonsentrasi. Belakangan aku tahu bahwa saat itu dia sedang berdialog dengan jin-jin yang ada di rumah kami.

 

“Istri Mas Ikromi sepertinya terkena santet Alip Lap. Itu yang membuat Mbak Dewi melupakanmu suami dan anak-anaknya. Ia justru jatuh cinta dengan pria yang telah melakukan santet itu,” ujarnya kemudian.

 

Jujur aku terkejut. Tapi sekaligus bingung. Ini pertama kali aku berurusan dengan hal-hal gaib. Memang aku pernah mendengar tentang santet, teluh, guna-guna dan semacamnya. Tapi itu dari orang-orang dan cerita teman-temanku di kantor. Malah terkadang aku menganggap semua itu hanya akal-akalan dukun agar orang-orang menggunakan jasanya untuk membasmi segala macam ilmu hitam.

 

“Apa santet Alip Lap itu, Ustadz?” tanya Santi yang penasaran.

 

“Santet Alip Lap ini cukup berbahaya. Sebab mengunci hati dan jiwa korbannya. Karena itulah sikap Mbak Dewi berubah drastis. Ia hanya tunduk apa kata jin yang menguasai dirinya. Percuma saja kita menasehati dirinya. Ia tidak akan pernah mau mendengar. Baginya hanya perintah jin itu saja yang harus diikuti,” jelas Ustadz Khairul.

 

“Apa santet ini bisa dihilangkan Pak Ustadz? Kami ingin agar adik kami itu kembali seperti semula,” tanya Mas Bambang. Aku lebih banyak diam. Bukan berarti tak perduli. Tapi karena aku sendiri masih bingung dengan kenyataan ini.

 

Ustadz Khairul tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja bisa. Tidak ada ilmu iblis yang kekal. Yang kekal itu hanyalah ilmu Allah,” jawabnya.

 

“Mas Ikromi bisa ngaji?” tanya Ustadz Khairul.

 

Aku terhenyak dan kemudian tertunduk malu. Jujur aku tidak bisa mengaji. Bahkan terkadang sholat pun masih jarang-jarang. Inilah yang aku sesalkan. Sebaiknya seorang suami dan juga ayah dari ketiga anak-anak, aku telah gagal. Sama sekali tidak pernah aku mengajarkan ilmu-ilmu agama pada mereka. Padahal jelas-jelas di KTP ku tertera berag Islam. Mungkin karena baik dari lingkungan keluarga dan pergaulan yang kurang begitu dekat dengan masalah agama.

 

Melihat aku tertunduk, Ustadz Khairul tersenyum. “Ya sudah. Tidak apa-apa. Nanti saya ajarkan do'a-do'anya.”

 

Berhubung waktu yang ditetapkan untuk memusnahkan santet itu tepat tengah malam. Mas Bambang dan Santi pamit istirahat dulu. Sementara Ustadz Khairul tetap bersamaku. Ia mengajarkan aku beberapa do'a penting yang harus aku baca berulang-ulang sampai tengah malam nanti.

 

Pukul sepuluh malam Mas Bambang dan Santi datang lagi. Kali ini justru bersama Ibu mertua. Mama sampai geleng-geleng kepala dan menangis saat aku menceritakan kembali apa yang telah Dewi lakukan. Juga tentang Dewi yang terkena santet teman prianya.

 

“Rom, jika nanti Dewi berhasil disembuhkan dari pengaruh santet ini, kamu mau kan memaafkan dia dan melupakan semua ini?” tanya Mama. Mata wanita paruh baya ini menatapku penuh harap.

 

Aku tersenyum dan mengangguk. “Iya, Ma. Itu pasti. Semua ini dilakukan Dewi dalam keadaan tidak sadar. Jadi semua ini bukanlah kesalahannya,” jawabku.

 

Mama kemudian menghampiri dan memelukku dengan erat. Aku pun ikut terharu dan meneteskan air mata. Aku pasti akan menerima istriku seperti sediakala. Aku akan melupakan semua kejadian pahit ini. Bagiku kebahagiaan keluarga dan juga anak-anakku di atas segala-galanya.

 

Tepat tengah malam, Ustadz Khairul memulai pemanggilan jin-jin yang menguasai jiwa istriku. Rupanya ada tiga jin yang sengaja diperintahkan oleh seorang dukun sesat. Namanya Ki Dasim Tato. Dia berasal dari Tanggerang. Dan dukun ini diminta oleh Rudi, laki-laki yang telah merampas istriku.

 

Awalnya Ustadz Khairul meminta agar jin-jin itu pergi dan melepaskan pengaruhnya pada istriku. Tapi tentu saja mereka tidak mau. Bahkan Ustadz Khairul harus berjuang susah payah untuk memusnahkan mereka. Kami melihat Ustadz itu memukul-mukulkan sorbannya. Ia terlihat seperti orang yang sedang berkelahi melawan sesuatu yang tidak terlihat. Terkadang ia harus terguling-guling. Ibu mertua dan Santi terlihat sedikit ketakutan. Tapi aku dan Mas Bambang memperhatikan tanpa mengedipkan mata.

 

Sampai akhirnya Ustadz Khairul duduk bersila dengan tenang. Ia mengatur napas. Tubuhnya betul-betul mandi keringat.

 

“Sekarang periksalah di bawah tempat tidur Mas Ikromi. Bawa kesini semua benda-benda itu,” ujarnya.

 

Aku merasa heran. Benda apa yang dimaksud. Tapi karena ragu, aku mengajak Mas Bambang. Ternyata di bawah tempat tidur kami, ditemukan berbagai macam benda-benda aneh. Gulungan rambut, keris kecil, jimat-jimat terbungkus kain dan juga boneka kain yang sudah hangus terbakar. Terlihat dari bara apinya, boneka itu baru saja terbakar.

 

Saat kami bawa ke ruang tamu, Ibu mertua dan Santi terpekik ngeri. Bagaimana bisa benda-benda aneh itu ada di bawah tempat tidur kami.

 

“Semua ini sebenarnya sudah lama tersimpan di sana. Hanya saja tidak terlihat dengan mata telanjang. Mbak Dewi sendiri yang meletakkan dalam keadaan tanpa sadar,” jelas Ustadz Khairul.

 

“Jadi bagaimana dengan Dewi sekarang?” tanya Mama.

 

Mas Bambang meminta Ibunya bersabar. Ia memberikan air minum pada Ustadz Khairul. Setelah minum barulah kemudian ia berkata, “Insyaa Allah Mbak Dewi sudah terlepas dari pengaruh santet itu. Dan tolong Mas Ikromi nantinya bisa dengan ikhlas memaafkannya.”

 

Aku mengangguk. Pasti aku akan memaafkan istriku. Meskipun orang-orang diluar sudah banyak yang tahu tentang perselingkuhan Dewi, tapi ada yang tidak mereka ketahui. Semua itu dilakukan istriku karena pengaruh jin yang menguasai dirinya.

 

Keajaiban itu benar-benar terjadi. Menjelang Subuh, Dewi pulang ke rumah. Ia seperti orang linglung. Saat melihatku, ia langsung bersujud dan mencium kakiku. Ia menangis sejadi-jadinya. Dewi mengatakan minta maaf dan mohon ampun atas kesalahannya. Dia pun menjelaskan bahwa dirinya sendiri pun bingung dengan apa yang terjadi. Saat tersadar ia sedang tidur bersama Rudi. Ia menjerit histeris dan langsung lari pulang ke rumah. Dewi mengaku seperti baru bangun tidur dan bermimpi panjang. Ia memintaku agar memaafkan segala dosa-dosanya.

 

Meskipun telah berlumur noda dan dosa perselingkuhan, tapi demi anak-anak dan faham apa yang dilakukan istriku itu diluar kesadarannya, dengan ikhlas aku memaafkan dan menerimanya kembali sebagai istriku. Masalah gugatan cerai bisa ditarik kembali. Kebahagiaan masa lalu telah menghapuskan segala amarahku. Aku berharap dia betul-betul sembuh dan kembali seperti dulu. Hidup bahagia dalam keluarga yang harmonis dan tenteram.

 

Ustadz Khairul memberikan aku nasehat. “Mas Ikromi. Mulai sekarang belajarlah mengaji. Tidak ada kata terlambat. Ajari juga istri dan anak-anak. Karena seorang suami dan ayah, akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat.”

 

Aku mengangguk. Ini pelajaran buat kami. Karena lemahnya iman dan ilmu agama, akhirnya istriku dengan mudahnya dipengaruhi segala macam ilmu hitam. (Abd. Ubaidilah) 

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال