Susuk yang Menahan Sakaratul Maut





Seharusnya Dewi udah mati ditempat tetapi sampai sekarang belum mati, padahal kondisinya sudah bukan seperti manusia lagi. Kepala belakangnya retak, menancap besi yang menembus punggung Dewi

..... 

Bumi Serpong Damai 2005 , punya banyak teman dengan banyak karakter adakah hal yang unik buatku, dari yang baik sampai tidak baik, kami saling menghargai, mengingatkan serta saling membantu yahhh walaupun tidak semuanya.

 

Sebut saja Dewi temanku orangnya tinggi putih dan cantik, suaminya seorang pengacara yang hebat jadi nggak heran kalau dia termasuk tajir dari beberapa temanku, suatu hari dia minta ditemani ke Rangkas Bitung, Lebak mau pasang susuk bilangnya, susuk yang dia pakai selama ini lepas karena ada pantangan yang dilanggarnya.

 

Aku sempat bicara,"kenapa pasang susuk? kau udah cantik dan kaya apalagi yang kau butuhkan.

 

Dia tertawa,"Dy, aku punya usaha konveksi dari pakaian yang kubuat aku kirim ke matahari departemen store , sainganku banyak kalau nggak pinter ngeloby bisa berabe, lagi pula biar mereka tertarik juga dengan ku, rumah tanggaku tidak sebagus yang kau lihat, untuk materi aku cukup puas tapi batiniah tidak Dy. Suamiku impoten anakku bukan anak suamiku, aku ngambil di panti asuhan sayap ibu di Jakarta. Aku sekarang punya pacar dia cukup memuaskan nafsuku cerita terus berlanjut,

 

"Terus suamimu tau kau selingkuh? Tanyaku.

 

Dia tertawa,"yahhh nggak lahhh, main cantik aja gue,” dia tertawa lagi.

 

Akhirnya kami pergi bertiga dengan teman yang lain, kami berangkat di Rabu malam Kamis, berangkat sore hari jadi ada kemungkinan kita menginap, dalam perjalanan kami banyak bercerita.

 

Dewi bertanya tentang cara pemasangan susuk itu.

 

“Nanti dia dimandikan tepat tengah malam, setelah itu susuk sejenis berlian akan dimasukkan ke bibir dan payudaranya, setelah itu puasa sampai pagi hari,".

 

Perjalanan cukup jauh tempat yang teramat sepi disekelilingnya banyak sawah dan pohon bambu, bunyi yang terdengar dari pohon bambu begitu menyeramkan.

 

Mereka tidak melihat tapi aku bisa melihatnya, penampakan tubuh tinggi besar dan hitam serta bertanduk matanya merah dan besar seperti mata bola kasti, perempuan yang terbang dari satu pohon ke pohon lain, penampakan orang kerdil dengan kepala yang besar.

 

Sampailah kami di satu tempat, rumahnya seperti rumah panggung, kami disambut perempuan separuh baya tapi tampaknya akrab dengan Dewi , begitu sampai dia tersenyum dan memeluk Dewi.

 

Aku salaman dengan ibu (istri eyang Gani), dan satu lagi seorang nenek berambut putih digulung keatas matanya terlihat buta sebelah memakai baju kebaya zaman dulu, temanku dan Dewi bingung melihat ku,"Dy lu salaman ma siapa lagi? tanya mereka kepada ku.

 

"Lahhh itu kan ada neneknya disebelah ibu itu, masa lu ngga pada lihat?,” balas ku yang membuat mereka tertegun.

 

Setelah berbasa-basi kami istirahat di kamar yang sudah disiapkan.

 

Tepat tengah malam, Dewi, aku dan eyang Gani keluar rumah dari pintu belakang, astagfirullahalazim tempat yang dikelilingi pohon bambu, ada semacam air pancuran, dan penerangannya hanya ada 4 obor tapi bukan itu yang membuatku beristigfar didalam hati, tempat itu dikelilingi  perempuan telanjang dengan kulit yang putih pucat, rambutnya terlihat panjang tapi untuk mukanya tidak terlihat sama sekali.

 

Aku berdiri menjauh, setelah rapalan keluar dari mulut eyang, Dewi mulai dimandikan dengan bunga dan wewangian hanya memakai kain Dewi dimandikan, setelah itu tangan eyang Gani memasukkan berlian itu ke bibir bawah Dewi, dan memasukkan di payudaranya dekat dengan putingnya.

 

Aku terpaku melihatnya,"ya Allah mereka sudah menyekutukan engkau dan mungkin aku juga bagian dari orang yang berdosa karena ikut mengantarnya, ada rasa sedih dan menyesal dihati, setelah selesai eyang masuk ke dalam rumah sementara aku ikut masuk.

 

Entahlah walaupun setan itu tanpa muka tapi sepertinya dia melihat ke arah ku, besok paginya kami bersiap untuk pulang, kami banyak dibawain makanan dari eyang Gani , aku tidak tertarik dengan makanannya justru aku tertarik dengan perubahan yang ada di diri Dewi, yang kulihat seraut wajah nenek yang kulihat malam itu.

 

Setelah pulang dari Rangkas perasaan masih aja mengganjal, pengen bilang bahwasanya ada yang nempel dibadan Dewi , tapi rasanya mulut ini berat untuk mengatakan,  tidak ada yang berubah dari kami. Kami masih sering kumpul untuk bermain volly atau sekedar makan-makan, terkadang Dewi mengajakku melihat konveksi nya di Ciater Pamulang,  disitu sempat bertemu dengan selingkuhannya, pemuda seumuran kami  mempunyai paras yg manis seperti orang Arab.

 

Ada beberapa kali Dewi mengajakku main ke Rangkas tapi aku menolaknya, bagiku cukup sekali, tapi memang luar biasa susuk yang dipakainya, tak jarang banyak mata lelaki yang menatapnya penuh hasrat, bahkan ketika kami makan disalah satu restoran Padang ternyata sudah ada yang bayarin, seorang pria paruh baya terlihat seperti big boss  yang sudah membayarnya dan ujung-ujungnya minta no hp Dewi

 

Setelah itu aku jarang bertemu karena kesibukan ku, ada beberapa tahun kemudian aku didatangin seorang ibu, dan suaminya Dewi , entahlah perasaan yang was-was takut dimarahin karena perselingkuhan yang mungkin ketahuan.

 

Si ibu memperkenalkan diri bahwa dia adalah ibu kandungnya Dewi dan memohon untuk melihat Dewi di RS, ternyata Dewi kecelakaan dengan selingkuhannya didaerah puncak Bogor, terus suaminya sempat menginterogasi diriku, menanyakan hubungan Dewi dengan selingkuhannya.

 

Aku mengatakan tidak tahu, ada hal yang tidak perlu aku sampaikan, bukan karena ingin menutupi aib teman tapi semacam ada perasaan menjaga komitmen antar teman, dari raut mukanya suaminya ada perasaan marah tapi ada perasaan sedih, dilema yang dirasakan secara pribadi.

 

 "Saya akan datang menjenguk Dewi nanti tante jawabku ke ibunya,” jawabku.

 

 "Ya tolong, ya nak. Tapi sebaiknya tunggu Dewi pulang ke rumah aja, karena besok mau dibawa pulang kerumah,” jelas ibu Dewi lebih lanjut.

 

"Iya tante nanti saya kesana”.

 

“Maaf nak boleh tanya nggak?,” lanjut si ibu.

 

"Boleh silakan tante,” ucap ku halus.

 

"Dewi pernah mengajak mu kesuatu tempat atau apapun itu untuk sesuatu ritual nggak nak?”.

 

Deg!

“Maksudnya apa tante?” tanya ku.

 

"Karena kecelakaan yang terjadi seharusnya Dewi udah mati ditempat tetapi sampai sekarang belum mati, padahal kondisinya sudah bukan seperti manusia lagi. Kepala belakangnya retak, menancap besi yang menembus punggung Dewi, sementara selingkuhannya mati ditempat. Mata Dewi melotot ke atas serta nafas yang tersengal-sengal. Darah terus keluar dari telinganya. Dokter aja bingung dengan kondisi seperti itu, Dewi masih bisa bernafas,” terang ibunya menjelaskan kondisi Dewi saat itu.

 

“Rasanya ada yang menahannya untuk mati,” ucap ibunya lagi.

 

Aku terdiam terbayang susuk yang masih menempel dibadannya.

 

Keesokan harinya, aku kesana sore hari, karena Dewi harus lepas bantuan pernafasan serta alat dari RS, dari Bogor ke BSD sangat menyeramkan kondisinya badannya tak berhenti kejang-kejang, seperti tersiksa dan sakit yang luar biasa.

 

Matanya mendelik ke atas dan memang seperti itu ketika aku menjumpai di rumahnya,

 

Astagfirullahalazim Nauzubillahminjalik , rasa sedih berubah jadi menyeramkan, sakaratulmaut yang dirasakan sepanjang perjalanan dari Bogor ke BSD sudah teramat menyiksanya, sesampainya di rumah Dewi, aku bertemu seorang bapak berwajah adem, seakan persiapan untuk segala sesuatunya sudah tersedia.

 

Bapak itu mengajak bicara dan aku menjelaskan semuanya tentang susuk yang dipakai Dewi, sebatas hanya bibir dan payudaranya yang aku tau, pak kiyai itu mengangguk, akhirnya aku disuruh masuk ke kamar Dewi.

 

Aku di minta untuk membimbing Dewi membacakan kalimat syahadat , begitu mendekat entahlah apa karena dia pengen bicara sesuatu denganku,  dari mulutnya terdengar erangan yang panjang, sementara bola matanya berputar.

 

Ya Allah betapa mengerikannya seseorang yang ajalnya tertahan karena susuk dan bagaimana caranya aku menuntun kalimat syahadat dikupingnya karena dari kupingnya terus mengalir darah.

 

Tak lama pak kiyai seperti membawa satu batang pohon dengan banyaknya daun seperti daun kelor, dikibaskan daunnya ketempat yang ku beritahu keberadaan susuknya, lengkingan suara Dewi terdengar, aku lari karena nggak tahan dengan suasana seperti itu!!


 

Menyeramkan, sedih dan takut itu yang kurasakan, akhirnya aku nunggu diluar dari mulut ku tetap beristighfar dan membaca doa, dan sampai akhirnya semua selesai. Aku tidak ikut penguburannya karena lemas. (Dian. A) 





Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال