Bumi Serpong Damai 2005 , punya banyak teman dengan banyak
karakter adakah hal yang unik buatku, dari yang baik sampai tidak baik, kami
saling menghargai, mengingatkan serta saling membantu yahhh walaupun tidak
semuanya.
Sebut saja Dewi temanku orangnya tinggi putih dan cantik,
suaminya seorang pengacara yang hebat jadi nggak heran kalau dia termasuk tajir
dari beberapa temanku, suatu hari dia minta ditemani ke Rangkas Bitung, Lebak
mau pasang susuk bilangnya, susuk yang dia pakai selama ini lepas karena ada
pantangan yang dilanggarnya.
Aku sempat bicara,"kenapa pasang susuk? kau udah cantik
dan kaya apalagi yang kau butuhkan.
Dia tertawa,"Dy, aku punya usaha konveksi dari pakaian
yang kubuat aku kirim ke matahari departemen store , sainganku banyak kalau
nggak pinter ngeloby bisa berabe, lagi pula biar mereka tertarik juga dengan
ku, rumah tanggaku tidak sebagus yang kau lihat, untuk materi aku cukup puas
tapi batiniah tidak Dy. Suamiku impoten anakku bukan anak suamiku, aku ngambil
di panti asuhan sayap ibu di Jakarta. Aku sekarang punya pacar dia cukup
memuaskan nafsuku cerita terus berlanjut,
"Terus suamimu tau kau selingkuh? Tanyaku.
Dia tertawa,"yahhh nggak lahhh, main cantik aja gue,”
dia tertawa lagi.
Akhirnya kami pergi bertiga dengan teman yang lain, kami
berangkat di Rabu malam Kamis, berangkat sore hari jadi ada kemungkinan kita
menginap, dalam perjalanan kami banyak bercerita.
Dewi bertanya tentang cara pemasangan susuk itu.
“Nanti dia dimandikan tepat tengah malam, setelah itu susuk
sejenis berlian akan dimasukkan ke bibir dan payudaranya, setelah itu puasa
sampai pagi hari,".
Perjalanan cukup jauh tempat yang teramat sepi disekelilingnya
banyak sawah dan pohon bambu, bunyi yang terdengar dari pohon bambu begitu
menyeramkan.
Mereka tidak melihat tapi aku bisa melihatnya, penampakan
tubuh tinggi besar dan hitam serta bertanduk matanya merah dan besar seperti
mata bola kasti, perempuan yang terbang dari satu pohon ke pohon lain,
penampakan orang kerdil dengan kepala yang besar.
Sampailah kami di satu tempat, rumahnya seperti rumah
panggung, kami disambut perempuan separuh baya tapi tampaknya akrab dengan Dewi
, begitu sampai dia tersenyum dan memeluk Dewi.
Aku salaman dengan ibu (istri eyang Gani), dan satu lagi
seorang nenek berambut putih digulung keatas matanya terlihat buta sebelah
memakai baju kebaya zaman dulu, temanku dan Dewi bingung melihat ku,"Dy lu
salaman ma siapa lagi? tanya mereka kepada ku.
"Lahhh itu kan ada neneknya disebelah ibu itu, masa lu
ngga pada lihat?,” balas ku yang membuat mereka tertegun.
Setelah berbasa-basi kami istirahat di kamar yang sudah
disiapkan.
Tepat tengah malam, Dewi, aku dan eyang Gani keluar rumah dari
pintu belakang, astagfirullahalazim tempat yang dikelilingi pohon bambu, ada
semacam air pancuran, dan penerangannya hanya ada 4 obor tapi bukan itu yang
membuatku beristigfar didalam hati, tempat itu dikelilingi perempuan telanjang dengan kulit yang putih
pucat, rambutnya terlihat panjang tapi untuk mukanya tidak terlihat sama sekali.
Aku berdiri menjauh, setelah rapalan keluar dari mulut eyang,
Dewi mulai dimandikan dengan bunga dan wewangian hanya memakai kain Dewi dimandikan,
setelah itu tangan eyang Gani memasukkan berlian itu ke bibir bawah Dewi, dan
memasukkan di payudaranya dekat dengan putingnya.
Aku terpaku melihatnya,"ya Allah mereka sudah
menyekutukan engkau dan mungkin aku juga bagian dari orang yang berdosa karena
ikut mengantarnya, ada rasa sedih dan menyesal
dihati, setelah selesai eyang masuk ke dalam rumah sementara aku ikut masuk.
Entahlah walaupun setan itu tanpa muka tapi sepertinya dia
melihat ke arah ku, besok paginya kami bersiap untuk pulang, kami banyak
dibawain makanan dari eyang Gani , aku tidak tertarik dengan makanannya justru
aku tertarik dengan perubahan yang ada di diri Dewi, yang kulihat seraut wajah
nenek yang kulihat malam itu.
Setelah pulang dari Rangkas perasaan masih aja mengganjal,
pengen bilang bahwasanya ada yang nempel dibadan Dewi , tapi rasanya mulut ini
berat untuk mengatakan, tidak ada yang
berubah dari kami. Kami masih sering kumpul untuk bermain volly atau sekedar
makan-makan, terkadang Dewi mengajakku melihat konveksi nya di Ciater
Pamulang, disitu sempat bertemu dengan
selingkuhannya, pemuda seumuran kami
mempunyai paras yg manis seperti orang Arab.
Ada beberapa kali Dewi mengajakku main ke Rangkas tapi aku menolaknya,
bagiku cukup sekali, tapi memang luar biasa susuk yang dipakainya, tak jarang
banyak mata lelaki yang menatapnya penuh hasrat, bahkan ketika kami makan
disalah satu restoran Padang ternyata sudah ada yang bayarin, seorang pria
paruh baya terlihat seperti big boss yang
sudah membayarnya dan ujung-ujungnya minta no hp Dewi
Setelah itu aku jarang bertemu karena kesibukan ku, ada
beberapa tahun kemudian aku didatangin seorang ibu, dan suaminya Dewi ,
entahlah perasaan yang was-was takut dimarahin karena perselingkuhan yang
mungkin ketahuan.
Si ibu memperkenalkan diri bahwa dia adalah ibu kandungnya Dewi
dan memohon untuk melihat Dewi di RS, ternyata Dewi kecelakaan dengan
selingkuhannya didaerah puncak Bogor, terus suaminya sempat menginterogasi
diriku, menanyakan hubungan Dewi dengan selingkuhannya.
Aku mengatakan tidak tahu, ada hal yang tidak perlu aku
sampaikan, bukan karena ingin menutupi aib teman tapi semacam ada perasaan
menjaga komitmen antar teman, dari raut mukanya suaminya ada perasaan marah
tapi ada perasaan sedih, dilema yang dirasakan secara pribadi.
"Saya akan
datang menjenguk Dewi nanti tante jawabku ke ibunya,” jawabku.
"Ya tolong, ya
nak. Tapi sebaiknya tunggu Dewi pulang ke rumah aja, karena besok mau dibawa
pulang kerumah,” jelas ibu Dewi lebih lanjut.
"Iya tante nanti saya kesana”.
“Maaf nak boleh tanya nggak?,” lanjut si ibu.
"Boleh silakan tante,” ucap ku halus.
"Dewi pernah mengajak mu kesuatu tempat atau apapun itu
untuk sesuatu ritual nggak nak?”.
Deg!
“Maksudnya apa tante?” tanya ku.
"Karena kecelakaan yang terjadi seharusnya Dewi udah
mati ditempat tetapi sampai sekarang belum mati, padahal kondisinya sudah bukan
seperti manusia lagi. Kepala belakangnya retak, menancap besi yang menembus
punggung Dewi, sementara selingkuhannya mati ditempat. Mata Dewi melotot ke atas
serta nafas yang tersengal-sengal. Darah terus keluar dari telinganya. Dokter
aja bingung dengan kondisi seperti itu, Dewi masih bisa bernafas,” terang
ibunya menjelaskan kondisi Dewi saat itu.
“Rasanya ada yang menahannya untuk mati,” ucap ibunya lagi.
Aku terdiam terbayang susuk yang masih menempel dibadannya.
Keesokan harinya, aku kesana sore hari, karena Dewi harus
lepas bantuan pernafasan serta alat dari RS, dari Bogor ke BSD sangat
menyeramkan kondisinya badannya tak berhenti kejang-kejang, seperti tersiksa
dan sakit yang luar biasa.
Matanya mendelik ke atas dan memang seperti itu ketika aku
menjumpai di rumahnya,
Astagfirullahalazim Nauzubillahminjalik , rasa sedih berubah
jadi menyeramkan, sakaratulmaut yang dirasakan sepanjang perjalanan dari Bogor
ke BSD sudah teramat menyiksanya, sesampainya di rumah Dewi, aku bertemu
seorang bapak berwajah adem, seakan persiapan untuk segala sesuatunya sudah
tersedia.
Bapak itu mengajak bicara dan aku menjelaskan semuanya
tentang susuk yang dipakai Dewi, sebatas hanya bibir dan payudaranya yang aku tau,
pak kiyai itu mengangguk, akhirnya aku disuruh masuk ke kamar Dewi.
Aku di minta untuk membimbing Dewi membacakan kalimat syahadat
, begitu mendekat entahlah apa karena dia pengen bicara sesuatu denganku, dari mulutnya terdengar erangan yang panjang,
sementara bola matanya berputar.
Ya Allah betapa mengerikannya seseorang yang ajalnya
tertahan karena susuk dan bagaimana caranya aku menuntun kalimat syahadat
dikupingnya karena dari kupingnya terus mengalir darah.
Tak lama pak kiyai seperti membawa satu batang pohon dengan
banyaknya daun seperti daun kelor, dikibaskan daunnya ketempat yang ku beritahu
keberadaan susuknya, lengkingan suara Dewi terdengar, aku lari karena nggak
tahan dengan suasana seperti itu!!
Menyeramkan, sedih dan takut itu yang kurasakan, akhirnya aku nunggu diluar dari mulut ku tetap beristighfar dan membaca doa, dan sampai akhirnya semua selesai. Aku tidak ikut penguburannya karena lemas. (Dian. A)