Teror di Kamar Hotel Angker

Wanita itu mengikik, kepalanya seketika miring ke kiri. Dari lehernya yang menganga tampak tetesan darah.

... 

Setelah memberi tips pada pelayan, segera kututup kamar. Merebahkan diri di ranjang kayu jati berisi kasur empuk. Memejamkan mata menikmati embusan pendingin ruangan yang telah dinyalakan pelayan tadi. Tanpa disadari, aku terlelap.

 

Kulihat jam di pergelangan tangan menunjukkan angka enam ketika terbangun. Ku dekati jendela, tampak sosok wanita berambut panjang berbaju putih melintas di taman yang sepi. Mungkin salah satu tamu, tetapi apa perduli ku. Gerimis turun membasahi daun dan rumput. Langit di luar sana mulai gelap saat ku menutup tirai.

 

Aku menyalakan lampu dan mulai menyusun  barang bawaan dalam lemari jati di sudut kamar. Setelah itu melangkah ke kamar mandi. Berendam dalam bathup  yang menyenangkan.

 

Aku membersihkan diri dan kembali ke kamar. Namun, ruang tidur sudah gelap saat aku masuk. Bukankah tadi lampu telah dinyalakan? Tetapi, ya, sudahlah. Ku dekati saklar yang berada dekat lukisan wayang dan menekan tombolnya.

 

Bangunan berarsitektur zaman kolonial Belanda ini luar biasa fasilitasnya. Rekomendasi teman ku untuk menginap di salah satu hotel bintang lima kota Surabaya ini tidaklah mengecewakan. Sayangnya aku tidak bisa mengisap rokok dalam kamar bebas asap ini.

 

Lampu dari besi kuningan bergantungan hampir di setiap langit-langit koridor. Bahkan, ada kursi berinisial HD terpajang rapi di lobi. Menurut karyawan, itu adalah kursi asli milik orang Belanda. Foto lama hotel yang berusia satu abad ini  pun terpajang di sana. Semua barang antik terlihat begitu terawat.

 

Saat akan menuju kamar, aku melewati lorong dengan pilar putih yang tinggi berpagar rendah dari beton. Keseluruhan hotel ini seperti tempat tinggal petinggi tentara Belanda di masa penjajahan. Mirip yang sering kutonton di film dokumenter.

 

Setelah mengenakan kaos dan celana pendek, aku memesan makanan untuk di antar ke kamar. Kubuka laptop dan mulai memeriksa kelengkapan laporan pencapaian penjualan bulan ini. Semuanya harus siap untuk rapat besok.

 

Terdengar ketukan pelan, aku bergegas menuju pintu. "Cepat sekali pesanan datang," pikirku. Namun, tak ada siapa pun ketika pintu dibuka, hanya embusan angin dingin yang melewatiku. Entah siapa yang iseng bermain-main.

 

Belum lama pintu ditutup, kembali ketukan itu terdengar. Keterlaluan! Ini  tak bisa dibiarkan. Sekali lagi aku membuka pintu, tetapi sama seperti tadi. Tak ada seorang pun, bahkan jejaknya tidak terlihat di lantai koridor yang tertutup ambal tebal.

 

Sambil mendengus, kubanting pintu hingga tertutup. Kutelepon resepsionis dan menyampaikan keluhan. Mereka berjanji kejadian itu tidak akan terulang lagi.

 

Tak lama kemudian makanan ku datang.  Sambil melengkapi kekurangan laporan, kuhabiskan seporsi mi goreng dengan telur setengah matang. Cacing di perut pun diam dan mataku menjadi berat.

 

Aku menyikat gigi di wastafel dan mencuci wajah. Saat mengangkat wajah, reflek aku berbalik ketika melihat  ada bayangan tertangkap cermin berbentuk lonjong itu.  Namun, tak ada apa-apa di sana. Mungkin itu hanya halusinasi akibat kelelahan setelah perjalanan lima jam tadi. Tidur, itu yang kubutuhkan.

 

Aku terbangun ketika merasa kedinginan. Dalam temaram lampu tidur, kulihat sosok wanita cantik dengan wajah pucat tersenyum saat aku menarik selimut. Rambutnya panjang terurai, duduk di kursi depan meja rias.


 



Aku bangkit dan berdiri di samping ranjang. " Kamu  siapa?"

 

Wanita itu mengikik, kepalanya seketika miring ke kiri. Dari lehernya yang menganga tampak tetesan darah.


Sosok mengerikan itu bangkit dan berjalan ke arahku, tepatnya  melayang.

 

Bau anyir dan busuk menyapa hidung, menimbulkan rasa mual. Ingin rasanya aku berlari, tetapi tidak bisa. Kaki ini seperti terbenam dalam lantai dingin. Makhluk itu menyeringai tepat di wajahku, bola matanya berwarna hitam. Jangankan berpaling, menutup mata pun tak bisa.

 

Tubuhku semakin gemetar ketika melihat sosok berpakaian tentara Jepang keluar dari lemari yang tertutup. Tangannya menggenggam samurai panjang. Dia mendekatiku.

 

Dua makhluk menyeramkan itu kini berada di hadapanku. Wajah tentara Jepang itu terlihat mengerikan dengan sejumlah goresan luka berdarah. Aku bergidik.

 

Bajuku basah oleh keringat dingin yang mengucur. Kakiku lemas ketika samurai diangkat dan terayun. Sebelum senjata itu menyentuh kulitku, semuanya menjadi gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi. (Dharma)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال