Wanita itu mengikik, kepalanya seketika miring ke kiri. Dari lehernya yang menganga tampak tetesan darah.
Setelah memberi tips pada pelayan, segera kututup kamar. Merebahkan diri di ranjang kayu jati berisi kasur empuk. Memejamkan mata menikmati embusan pendingin ruangan yang telah dinyalakan pelayan tadi. Tanpa disadari, aku terlelap.
Kulihat jam di pergelangan tangan menunjukkan angka enam
ketika terbangun. Ku dekati jendela, tampak sosok wanita berambut panjang
berbaju putih melintas di taman yang sepi. Mungkin salah satu tamu, tetapi apa
perduli ku. Gerimis turun membasahi daun dan rumput. Langit di luar sana mulai
gelap saat ku menutup tirai.
Aku menyalakan lampu dan mulai menyusun barang bawaan dalam lemari jati di sudut
kamar. Setelah itu melangkah ke kamar mandi. Berendam dalam bathup yang menyenangkan.
Aku membersihkan diri dan kembali ke kamar. Namun, ruang
tidur sudah gelap saat aku masuk. Bukankah tadi lampu telah dinyalakan? Tetapi,
ya, sudahlah. Ku dekati saklar yang berada dekat lukisan wayang dan menekan
tombolnya.
Bangunan berarsitektur zaman kolonial Belanda ini luar biasa
fasilitasnya. Rekomendasi teman ku untuk menginap di salah satu hotel bintang
lima kota Surabaya ini tidaklah mengecewakan. Sayangnya aku tidak bisa mengisap
rokok dalam kamar bebas asap ini.
Lampu dari besi kuningan bergantungan hampir di setiap
langit-langit koridor. Bahkan, ada kursi berinisial HD terpajang rapi di lobi.
Menurut karyawan, itu adalah kursi asli milik orang Belanda. Foto lama hotel
yang berusia satu abad ini pun terpajang
di sana. Semua barang antik terlihat begitu terawat.
Saat akan menuju kamar, aku melewati lorong dengan pilar
putih yang tinggi berpagar rendah dari beton. Keseluruhan hotel ini seperti
tempat tinggal petinggi tentara Belanda di masa penjajahan. Mirip yang sering
kutonton di film dokumenter.
Setelah mengenakan kaos dan celana pendek, aku memesan
makanan untuk di antar ke kamar. Kubuka laptop dan mulai memeriksa kelengkapan
laporan pencapaian penjualan bulan ini. Semuanya harus siap untuk rapat besok.
Terdengar ketukan pelan, aku bergegas menuju pintu.
"Cepat sekali pesanan datang," pikirku. Namun, tak ada siapa pun
ketika pintu dibuka, hanya embusan angin dingin yang melewatiku. Entah siapa
yang iseng bermain-main.
Belum lama pintu ditutup, kembali ketukan itu terdengar.
Keterlaluan! Ini tak bisa dibiarkan.
Sekali lagi aku membuka pintu, tetapi sama seperti tadi. Tak ada seorang pun,
bahkan jejaknya tidak terlihat di lantai koridor yang tertutup ambal tebal.
Sambil mendengus, kubanting pintu hingga tertutup.
Kutelepon resepsionis dan menyampaikan keluhan. Mereka berjanji kejadian itu
tidak akan terulang lagi.
Tak lama kemudian makanan ku datang. Sambil melengkapi kekurangan laporan,
kuhabiskan seporsi mi goreng dengan telur setengah matang. Cacing di perut pun
diam dan mataku menjadi berat.
Aku menyikat gigi di wastafel dan mencuci wajah. Saat
mengangkat wajah, reflek aku berbalik ketika melihat ada bayangan tertangkap cermin berbentuk
lonjong itu. Namun, tak ada apa-apa di
sana. Mungkin itu hanya halusinasi akibat kelelahan setelah perjalanan lima jam
tadi. Tidur, itu yang kubutuhkan.
Aku terbangun ketika merasa kedinginan. Dalam temaram lampu
tidur, kulihat sosok wanita cantik dengan wajah pucat tersenyum saat aku
menarik selimut. Rambutnya panjang terurai, duduk di kursi depan meja rias.
Aku bangkit dan berdiri di samping ranjang. " Kamu siapa?"
Wanita itu mengikik, kepalanya seketika miring ke kiri. Dari
lehernya yang menganga tampak tetesan darah.
Sosok mengerikan itu bangkit dan berjalan ke arahku,
tepatnya melayang.
Bau anyir dan busuk menyapa hidung, menimbulkan rasa mual.
Ingin rasanya aku berlari, tetapi tidak bisa. Kaki ini seperti terbenam dalam
lantai dingin. Makhluk itu menyeringai tepat di wajahku, bola matanya berwarna
hitam. Jangankan berpaling, menutup mata pun tak bisa.
Tubuhku semakin gemetar ketika melihat sosok berpakaian
tentara Jepang keluar dari lemari yang tertutup. Tangannya menggenggam samurai
panjang. Dia mendekatiku.
Dua makhluk menyeramkan itu kini berada di hadapanku. Wajah
tentara Jepang itu terlihat mengerikan dengan sejumlah goresan luka berdarah.
Aku bergidik.
Bajuku basah oleh keringat dingin yang mengucur. Kakiku
lemas ketika samurai diangkat dan terayun. Sebelum senjata itu menyentuh
kulitku, semuanya menjadi gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi. (Dharma)