Ritual Neda Nyawa

Selama sepuluh tahun kita menanti kehadiran seorang anak. Namun, setelah kita mendapatkannya, kita membunuhnya begitu saja....





Tek! Tek! Tek! 


"Mayit! Mayit! Mayit!"


Suara kentongan terdengar memekakan telinga. Membuatku juga Nari, istriku beranjak dari dipan bambu, tempat biasa bagi kami merebahkan segala lelah.


Sontak semua orang menghambur dan berkerumun, saling berbisik melontarkan pertanyaan yang sama.


"Mayit?" 

"Mayit?"

"Mayit siapa?" 

"Siapa?" 


Kulirik wajah Nari yang mulai sendu. Dinding pipinya telah basah oleh air mata. Segera kutahan pergerakannya saat langkahnya hendak memasuki kerumunan.


"Tahan, Nar," ucapku meyakinkan.

"Tapi, Mas ...."


Nari semakin terisak.


Secepatnya kuraih tubuhnya dan kurengkuh ia erat-erat, agar ketenangan kembali menyelimuti dirinya.


Namun, tubuhnya memberontak. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan diri dan ia berhasil, lantas bergegas menerobos kerumunan.


Tangisan Nari semakin menjadi kala wajah pucat dengan lidah menjulur itu tampak oleh matanya.


Sontak semua mata tertuju kepadanya.


"Mbak Nari kenal dengan anak ini?" Pak Bayan menatapnya penuh tanya.


'Tahan, Nar. Tahan,' batinku.


Perlahan Nari menggelengkan kepalanya.


Aku bernapas lega.


Namun, sorot mata warga masih menyiratkan curiga pada Nari yang tiba-tiba menerobos masuk dan merengkuh jasad yang menguarkan aroma busuk itu. 


Bahkan bisik warga yang menghardik Nari, terdengar jelas di telinga ini.


Demi meredakan suasana dan menghilangkan kecurigaan warga, aku turut menerobos ke dalam kerumunan dan segera menarik tubuh Nari yang gemetaran. 


"Maafkan sikap istri saya ya, Bapak, ibu. Semenjak kematian anak saya beberapa bulan lalu, istri saya masih begitu terpukul. Dan tak jarang dia menganggap anak kecil yang melintas di depannya adalah anak kami. Sekali lagi, saya mohon maaf," ujarku, meyakinkan. 


Mata ini nanar, memperhatikan satu per satu raut warga yang tampak  mulai percaya dengan alasan yang kulontarkan. 


'Syukurlah,' gumamku dalam hati. 


Aku lantas membawa Nari keluar menjauhi kerumunan, agar kecurigaan warga tak semakin menjadi-jadi padaku juga Nari.


Sesampainya di rumah, Nari terduduk lesu di kursi tamu. Kristal bening kian deras mengalir dari matanya yang memerah. 


"Aku tidak sanggup, Mas. Selama sepuluh tahun kita menanti kehadiran seorang anak. Namun, setelah kita mendapatkannya, kita membunuhnya begitu saja." 


Aku menghela napas, merengkuh tubuh Nari yang gemetaran sebab isak yang tak tertahan. 


"Sabar, Nar. Tahan dirimu, ingat anak itu bukan anak kita. Tapi ...." 


Aku menghentikan ucapanku, sungguh tak kuasa melanjutkan apa yang hendak terucap dari bibir ini. 


"Maafkan aku, Nar," imbuhku pelan.


Nari tertunduk kian dalam, aku paham dengan kesedihan yang tengah merajai dirinya. 


Tak berselang lama, keriuhan warga terdengar dari luar rumah kami. Aku mengintip dari celah jendela kayu yang kubiarkan sedikit terbuka. Ternyata warga tengah berbondong-bondong mengangkat jasad gadis malang itu untuk segera dikebumikan. 


Satu tahun berlalu, berita tentang penemuan mayat anak perempuan itu kian tergerus waktu. Bahkan sudah tak terdengar lagi mulut yang memperbincangkannya.


Kini tiba malam satu suro. 


Aku mempersiapkan beberapa cawan gerabah untuk meletakkan sesaji.


Bunga tujuh rupa, tujuh telur ayam jawa, menyan, dupa beserta satu lirang pisang Raja Temen kutata rapi di atas sebuah meja Jati. 


Ini adalah ritual keduaku.


Kulirik Nari sudah bersiap di sana, di atas ranjang yang telah bertabur kembang setaman. Duduk bersila mengarah ke arah barat.


Kusenandungkan lirih selarik mantra sebagai bentuk penyambutanku pada Nyai Pramesti. 


Nari masih terdiam di tempatnya, kemudian melesat ke arahku seusai bibirku menyelesaikan sebait mantra yang kudapatkan dari hasil laku prihatinku di lembah Mergipati. 


Nari berjalan anggun. Namun, tak seanggun biasanya.


Bahkan parasnya lebih ayu, seayu Nyai Pramesti, junjunganku.


"Ayo," lirihnya di telingaku.


Kami melakukan ritual demi ritual secara berurutan. Berharap akan segera menuai hasil, demi membungkam mulut orang-orang yang sudah menghina kemiskinan kami.


Nari mulai menyalurkan gairahnya padaku.


Kami berpadu dalam gelora yang dalam sekejap membuat diri ini terlena. 


Hingga, ritual itu berakhir, Nari hanya terbaring di atas ranjang. 


Nari mulai kehilangan kesadaran sebelum perutnya perlahan membuncit dan kian membesar. 


Tak berselang lama, Nari tersadar. 


Tubuhnya mengejang, sedang bibirnya terus memekikkan kata, "panas".


Dan benar saja, saat kupegang tubuhnya terasa begitu panas. Aku segera meraih rendaman akar kelor yang sudah kupersiapkan sebelumnya. 


Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh kuncen lembah Mergipati. 


Satu, dua gelas air rendaman itu kuguyurkan di atas kepala Nari, sampai panas yang meradang di tubuhnya mereda. 


Namun, sakit yang harus Nari rasakan tampaknya belum cukup sampai di situ. Beberapa saat kemudian, Nari menggeliat bak cacing kepanasan. 


Aku segera menyumpal mulutnya agar pekikkannya tak terdengar oleh warga. 


Sampai pada akhirnya, Nari mulai mengejan, dan seorang bayi perempuan kembali terlahir dari rahimnya.


"Akhirnya, tinggal satu bayi lagi dan kita akan kaya, Nar." 


Aku menatap Nari penuh haru.


Nari menatap wajahku sayu, bulir bening mulai membuncah dari pelupuk matanya yang membengkak. Aku paham, atas kesedihan yang selalu bersarang dalam hatinya. Tapi, bersabarlah, Nar, semua ini demi kebahagiaan kita. 


Aku merengkuh tubuh Nari, memberi usapan lembut di pangkal kepalanya hingga membuatnya menjadi sedikit lebih tenang.  


Nari meraih jabang bayi yang hanya menatap tajam ke arah kami. 


Meskipun, ia baru saja terlahir, namun tangisan tak terdengar dari bibir mungil itu.


Tangisan layaknya bayi manusia pada umumnya. 


Ya, sebab bayi ini bukan sembarang bayi. 


Tapi, bayi ini adalah buah dari asmaraku dengan Nyi Pramesti, siluman ular penunggu lembah Mergipati.


Aku terpaksa bersekutu dengannya, sebab aku tak sanggup melihat istriku dihina dan direndahkan oleh beberapa warga yang selalu memandang kami sebelah mata. 


"Aku tak sanggup, Mas." 


Nari kian tersedu dalam rengkuhanku. 


"Maafkan aku, Nar. Tapi, Mas janji akan segera mengakhiri ikatan ini begitu Nyi Pramesti mengabulkan keinginan kita." 


Kurebahkan tubuh Nari di atas pembaringan, sembari kubersihkan tubuhnya yang penuh dengan noda darah yang masih mengucur dari pangkal pahanya. 


Sedang jabang bayi itu, sebelum kelopak matanya terbuka, bayi itu segera kumasukan ke dalam kandang yang sudah kupersiapkan sebelumnya. 


Alasannya hanya satu, jika bayi siluman itu tidak terikat dan terkekang, maka, ia tidak segan-segan menggegoroti tubuh siapa pun yang telah melahirkannya. 


Meski parasnya ayu, tapi, bayi itu tetaplah anak siluman yang dapat melakukan apa pun untuk menyakiti atau bahkan membunuh demi sebuah kepuasan diri. 


Tiga hari berlalu. Meski aku tak pernah memberi sekepal nasi pun pada bayi itu. Namun, bayi itu dapat tumbuh dengan sendirinya. Kini, ukuran tubuhnya sudah setara dengan anak berusia sepuluh tahun.


Aneh memang. Namun, hal semacam ini sudah tak membuatku begitu terheran.


Aku sudah terbiasa.

 

Semenjak kelahirannya, mulut bayi itu sudah kubungkam rapat menggunakan potongan kain jarit. Agar saat ia berteriak atau menangis tak terdengar oleh warga.


Gulungan awan hitam membentang di atas sana. Seolah tengah memberiku jalan untuk segera menuntaskan ritual tahunanku ini.


"Ayo, Nar. Kita harus segera bergegas."


Nari mengangguk pelan, segera ia mengeluarkan gadis ayu itu dari kandang bambu dan menariknya menuju pemakaman keramat di desa kami.


Kami berjalan sedikit tergesa-gesa, sebab situasi benar-benar di luar dugaan. Kami mengira malam ini akan aman seperti tahun sebelumnya. Namun, kami menyadari beberapa orang tengah berkumpul di pendopo yang terletak tak jauh dari tempatku melakukan penutupan ritual.


"Gawat! Bagaimana ini, Mas?" Nari mulai khawatir.


"Tenang, Nar. Jangan panik. Kita lakukan perlahan dan jangan sampai membuat keributan." Aku berusaha menepis kekhawatiran Nari.


"Letakkan," ucapku.


Perlahan gadis ayu itu dibaringkan di atas tanah. Ia mulai memberontak, namun tenaganya tak akan sebanding dengan robekan jarit Kawung yang masih melilit erat tubuhnya. 


"Sekarang!" Kuberi aba-aba kepada Nari untuk segera menuntaskan ritual ini.


Namun, ia bergeming. Matanya menatap lekat gadis kecil yang telah berlinang air mata. 


Hal yang selalu terjadi saat kami melakukan ritual ini, Nari selalu iba melihat gadis yang hendak kami bunuh. 


"Ayo, Nar! Dia bukan anakmu. Ayo, cepat lakukan!" 


Suaraku semakin tegas memperingatkannya.


Nari bergeming, bahkan tanpa ia sadari tangannya hendak membuka simpul yang melilit tubuh gadis itu. 


Kutamparkan tanganku ke pipi kanannya. Mencoba menyadarkan Nari yang semakin iba kepada anak siluman itu. 


Secepatnya, Nari melekatkan wajahnya ke mulut gadis itu.


Semburat putih keluar dari mulutnya dan perlahan masuk ke mulut Nari yang masih menganga. 


Gadis kecil itu nampak kaku, dengan lidah yang menjulur panjang, sebagai pertanda ritual ini telah usai kami langsungkan. 


"Heh! Apa-apaan kalian?" 


Belum sempat meninggalkan tempat, kedatangan Pak Bayan yang tiba-tiba, membuat kami terkejut dan membuat kami segera berlari tunggang langgang. Meninggalkan anak siluman itu yang masih tergeletak di atas tanah.


Kami berlari sekuat tenaga.


Sebab tak mau mengambil risiko, mati dalam amukan warga


"Bagaimana ini, Mas? Apa yang akan terjadi setelah ini?" Nari kian tajam menatapku.


"Lupakan, Nar. Yang terpenting kita selamat dulu," ujarku menenangkan.


Tiba-tiba Nari jatuh tersungkur sebab tersandung bebatuan yang mencuat dari balik tanah. Kulihat darah mengalir di dahinya. Tak berselang lama, aku juga turut terjatuh saat hendak menolongnya membangkitkan diri.


"Argh!" 


Aku memekik. Rasa nyeri dan perih seketika terasa meradang di kepalaku.


Secepatnya, kami bangkit dan kembali berlari dengan sisa-sisa tenaga yang kami miliki. Anehnya, kini pergerakanku terasa lebih ringan dari sebelumnya. Bahkan terlalu ringan sampai-sampai membuat kami sedikit melayang ke udara. Menyaksikan tubuhku juga Nari bersimbah darah sebab amukan puluhan warga. 


"Aku telah mati?" 


Nari kian tak terkendali, ia memekik saat pandang matanya memindai dua jasad yang tengah mati berlumur darah. 


"Mas? Kita sudah mati?" Nari memekik. 


Tak ubahnya denganku, aku pun tak percaya, kesempatan hidup di dunia fana ini telah berakhir bahkan sebelum kami mendapatkan hasil atas pengorbanan kami selama ini pada Nyi Pramesti.


Aku turut memekik, sebelum akhirnya langit bergelegar. Memunculkan wajah mengerikan seorang wanita bertubuh ular.


Ya, tidak salah lagi, dialah Nyi Pramesti.


Aku lantas membungkuk dan bersujud di kakinya. Derai air mata masih kian deras mengalir.


"Tolong, Nyi. Tolong saya." Aku mengiba.


Namun, bukan jawaban yang keluar dari bibir junjunganku ini. Tapi sebuah tawa lepas yang membuatku sedikit bergidik.


"Apa yang bisa kuperbuat untukmu, Manusia?! Kau sudah mati dan itu sudah menjadi takdirmu. Mulai sekarang kau adalah budakku!"


Lengkingan demi lengkingan terus terngiang dalam telingaku.


Aku menyesal, telah bersekutu dengan iblis ini. Aku menyesal. 


Tubuh ini terasa sesak, saat ekor yang memanjang di tubuh Nyi Pramesti melilit tubuhku juga tubuh Nari, membawa kami ke sebuah tempat menjijikan yang penuh dengan ribuan anak ular berwarna keemasan.


"Sekarang, nikmatilah buah dari kerja keras kalian selama ini. Bukankah ini adalah emas yang kalian inginkan? Hahaha."


Tubuh ini terlempar jauh, dan mendarat di antara kumpulan ular-ular itu. 


Seketika itu juga, patukan demi patukan kurasakan mendarat di sekujur tubuh, memberi sensasi rasa sakit yang begitu luar biasa. Begitu juga Nari yang berada tak jauh dariku, ia meraung, memekik dan memohon pertolongan padaku. 


Namun apa daya, aku juga lemah, siksa ini sungguh membuatku menyesal atas keputusan untuk bersekutu dengan siluman ular itu. (Erni Windiyarti)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال