Sumur Misteri di Belakang Rumah

sumur itu bekas pembuangan mayat penyanyi sinden. Ada juga yang mengatakan kalau sumur itu pernah dijadikan pembuangan bayi bekas aborsi..

...

"Eh, ada penghuni baru lagi."


"Kali ini tahan berapa lama, ya?"


Aku tersenyum pada dua ibu-ibu yang sedang berbisik-bisik beberapa meter di depanku. Baru saja ingin menyapa mereka, Bang Fahmi memanggilku dari dalam.


Sebelum masuk kulirik ke belakang. Ibu-ibu itu masih berdiam di tepi jalan, memperhatikan rumahku.


Aku baru pindah ke rumah ini tadi pagi. Tak banyak barang yang dibawa, karena di rumah ini pun perabotnya masih lengkap.


Menjelang sore ada beberapa tetangga yang mampir ke sini. Kebanyakan mengatakan semoga betah di rumah ini. Ada juga yang menyarankan untuk diadakan pengajian.


"Insya Allah, Pak. Kalo rezekinya udah ada kami juga ingin ngadain syukuran. Itung-itung silaturahmi sama tetangga yang lainnya." Aku mengangguk membenarkan perkataan Bang Fahmi. Entah kenapa aku merasa rumah ini memiliki hawa berbeda. Sangat berbeda seperti ketika kami masih tinggal di kontrakan dulu.


Kutinggalkan Bang Fahmi dan beberapa tetangga lainnya begitu mendengar ketika di pintu belakang. Mungkin ada tetangga yang mau silaturahmi juga, karena di depan lumayan rame makanya milih jalan belakang.


Begitu pintu kubuka, aroma busuk menguar bersamaan dengan semilir angin. Tak ada siapa-siapa di sini. Dahiku mengerut, jelas-jelas aku mendengar suara ketukan. Apa mungkin orangnya pergi duluan karena aku telat membuka pintu?


Ada sumur tua di belakang rumahku. Kayu yang menutup lubangnya tampak sudah rapuh. Bang Fahmi pernah bilang supaya jangan mendekati sumur itu.


"Dek, kamu di mana?"


Aku langsung masuk begitu mendengar teriakan Bang Fahmi. Perihal ketukan pintu itu tak kuceritakan pada Bang Fahmi. Aku tak ingin ia khawatir hanya karena kejadian sepele seperti itu. Butuh waktu bertahun-tahun bagi kami untuk bisa membeli rumah, meski hanya rumah sederhana.


Rumah kembali lengang. Seharian beres-beres membuat tubuhku pegal. Setelah membersihkan piring dan gelas kotor, aku merebahkan tubuh di sofa sambil menonton televisi. Bang Fahmi pergi ke masjid. Beruntung aku sedang menstruasi, jadi bisa beristirahat sebentar sebelum menyiapkan makan malam.


Entah sudah berapa lama aku tertidur. Bang Fahmi berdiri di depanku. Rupanya ia baru pulang dari masjid.


"Mau aku diapain makan malam, Bang?" tanyaku sambil mengucek mata.


"Gak usah, Dek. Tadi Abang ikut tahlilan di masjid," jawab Bang Fahmi. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sudah jam sembilan, tapi mataku tak bisa terpejam. Bang Fahmi sudah terlelap di sampingku. Sedikit menyesal juga karena tidur lebih awal. Sekarang aku hanya bisa memandangi langit-langit kamar.


Kerongkonganku terasa kering. Baru hendak turun dari tempat tidur, aku mendengar suara di luar. Seperti ada yang menyeret benda berat. Kugoyangkan lengan Bang Fahmi, takut kalau suara yang kudengar itu berasal dari maling yang ingin membobol rumah ini.


"Bang, bangun ...." Meski sudah kuguncang-guncangkan tubuhnya, Bang Fahmi tak juga membuka mata. Ia hanya meracau tak jelas, lalu kembali mendengkur.


Ck, kesal juga sama Bang Fahmi. Kalau tidur sudah kayak mayit aja.


Kubuka pintu kamar dengan pelan. Kepalaku menoleh ke kanan dan kiri, memastikan keadaan. Karena terlanjur penasaran, terpaksa aku harus mencaritahu asal suara itu.


Kuraih senter di atas buffet. Hening. Tak lagi terdengar suara selain suara binatang malam.


Baru hendak membuka pintu, aku teringat dengan pesan dari Mbak Suryo tadi sore.


"Kalau denger suara aneh dari luar, cuekin aja."


"Emangnya kenapa, Mbak?"


"Gak papa. Takutnya maling yang bawa senjata tajam."


Mendengar jawaban dari Mbak Suryo justru membuat rasa penasaranku semakin menjadi. Apalagi melihat gerak tubuhnya yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Benarkah maling?


Kusibak gorden sedikit untuk melihat keadaan di luar. Tak ada yang aneh. Saat hendak beranjak, aku melihat seorang pria menggusur tubuh seorang perempuan. Refleks aku menutup mulut. Wajahnya tak terlihat jelas.


Bagaimana ini? Haruskah kubangunkan Bang Fahmi?


Entah mendapat keberanian dari mana, aku mulai membuka pintu. Pria itu berjalan ke arah belakang rumah. Di samping kanan dan kiri rumahku hanya ada tanah kosong. Di sebrang jalan, lampu-lampu bersinar terang.


Suhu udara di malam hari begitu dingin. Senter tak kunyalakan. Pelan-pelan aku berjalan ke samping sebelah kanan. Dari balik tembok aku sempat mengintip. Pria itu berjalan menghadap depan, sedangkan sebelah tangannya menarik lengan perempuan berkebaya.


Jika ini kasus kejahatan, maka aku harus segera meminta pertolongan. Namun entah kenapa, aku begitu tertarik untuk mengikuti pria itu. Siapa dan kenapa pria itu membawa perempuan yang sepertinya sudah tak bernyawa lagi.


Degupan jantungku mulai menggila. Keringat dingin mengalir di beberapa bagian tubuh. Benarkah keputusanku ini?


Astagfirullah. Aku menggigit bibir bagian bawah. Tubuh perempuan itu dibuang ke dalam sumur. Kakiku lemas, tubuhku ambruk ke tanah.


Ya Allah, bagaimana ini?


Sekali lagi kuintip, pria itu sudah tak ada. Aku celingukan, ke mana perginya?


Aku harus memastikan jasad perempuan itu. Sambil berpegangan pada dinding aku bangkit berdiri. Ingin sekali aku mengutuk Bang Fahmi yang sedang enak-enakkan tidur saat ini.





Sudah kupastikan tak ada pria misterius itu. Tubuhku mulai mendekati sumur tua yang tak lagi ditutup kayu. Aku terhenyak kaget ketika satu kelelawar keluar dari dalam sumur.


Senter mulai kuarahkan ke dalam. Dari tepi sumur aku melongok ke dalam.


"Aaa!" Senter yang kupegang jatuh ke bawah. Kakiku kembali melemas.


"Dek, kenapa?" Bang Fahmi menepuk pundakku beberapa kali.


Aku berbalik, menatap wajahnya yang terlihat cemas di bawah remang sinar rembulan. Tubuhku menggigil dalam dekapan Bang Fahmi.


Kuceritakan semuanya pada Bang Fahmi. Tentang pria misterius, tentang jasad perempuan, dan keadaan di dalam sumur. Aku sempat melihat dua mata merah menyala di dalam kegelapan. Namun, ketika Bang Fahmi menyorotinya dengan senter ponselnya, tak ada apa-apa di dalam.


Rupanya penghuni rumah sebelumnya pun pernah mengalami hal yang sama. Sumur di belakang rumah memiliki banyak versi cerita bagi warga setempat. Ada yang mengatakan kalau sumur itu bekas pembuangan mayat penyanyi sinden. Ada juga yang mengatakan kalau sumur itu pernah dijadikan pembuangan bayi bekas aborsi. Mungkin itu juga alasan kenapa penghuni sebelumnya hanya bisa bertahan beberapa hari. Setiap malam mendapat teror tentu bukan perkara sepele. (Fadya Zahira) 

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال