Andre dikejutkan dengan rasa sakit dan perih yang luar biasa di bagian perutnya. Ia meringkuk kesakitan. Suaranya terasa tersekat, bahkan untuk berteriak meminta tolong pun Ia tidak mampu.
...
Andre merupakan salah satu karyawan perusahaan jasa penyedia Debt Collector. Ia bekerja sebagai field collector. Yaitu khusus menangani bagian pembayaran kredit macet. Terutama pembayaran yang telah macet di atas 3 bulan.
Suatu hari Andre mendapat tugas untuk melakukan penagihan
terhadap seorang debitur dari salah satu perusahaan leasing.
Menurut informasi, debitur tersebut telah telat membayar
hampir 4 bulan.
Setelah menerima tugas dan mendapatkan data-datanya, Pria
bertubuh tegap itu segera bergegas menuju ke alamat sang debitur.
Akan tetapi, sesampainya disana, Ia malah kecewa setelah
mengetahui si debitur sudah pindah dari tempatnya, yang ternyata hanyalah
sebuah konrakan.
Untuk lebih memastikan keberadaan pemilik kontrakan
tersebut, Andre mencoba mencari tahu pada tetangga sekitar.
"Permisi, Pak, izin tanya, kalo boleh tahu, pemilik
rumah yang disini pindah kemana, ya?" tanya Andre setelah berhasil menemui
seorang pria yang kebetulan hendak keluar dari rumah kontrakan disebelahnya.
"Saya juga kurang begitu tahu, Mas. Tapi, dari yang
pernah saya dengar, katanya kampungnya itu di Sageri, Mas," jawab Pria
itu.
"Oh, Sageri ya, Pak."
"Iya, Mas."
Setelah mengetahui alamat baru si debitur, Ia kemudian
segera pamit.
Kali ini pekerjaannya terasa cukup pelik, karena harus
menagih di dalam perkampungan warga.
Seperti di ketahui, menagih di dalam perkampungan merupakan
hal paling di hindari para Debt Collector. Karena biasanya sering terjadi
hal-hal yang tidak di duga. Bahkan beberapa kali, para Debt Collector yang
nekad masuk, harus babak belur di hakimi warga. Apalagi Andre harus menagih
sendirian.
Sageri merupakan nama sebuah kampung yang terletak di
perbatasan kota. Tidak banyak orang yang mengetahui, sebab kebanyakan
penduduknya memilih untuk menutup diri dari dunia luar.
Hanya beberapa saja yang mau pindah dan menetap di dalam
kota, guna memilih melanjutkan hidup yang lebih layak dan sedikit moderen.
Konon, di kampung tersebut banyak terdapat hal-hal mistis;
dari kuyang yang bergentayangan saat malam dan juga santet yang menjadi senjata
para penduduknya.
Terselip di dalam benak Andre untuk mundur dari proses
penagihan kali ini. Ia benar-benar khawatir akan nasibnya.
Namun, jika itu terjadi, maka reputasinya di kantor akan
berkurang. Bahkan ia akan sangat sulit menerima tawaran untuk penagihan.
Bimbang dengan hal itu, Ia mencoba mencari jalan tengah
dengan sharing kepada rekan-rekannya.
"Pokoknya apa aja yang disediain tuan rumah jangan lu
sentuh, deh."
"Lu jangan sekali-sekali coba minum apa-apa. Terutama
kopi. Bahaya!"
"Pokoknya lu datang, tagih trus pulang. Nggak usah
macam-macam lagi. Yang penting motor bisa lu bawa pulang."
Berbagai macam saran di dapatkannya. Kepalanya terus saja di
jejal dengan solusi-solusi agar terhindar dari ilmu santet. Lidahnya terasa
kelu untuk mengucapkan sesuatu, sedang pikirannya coba menerawang setiap kata
yang diucapkan temannya itu.
Sorenya, Andre memutuskan untuk pergi menuju ke Sageri. Ia
memilih berangkat menggunakan sebuah ojek yang disewanya.
Sesampainya di dalam kampung, Pria dengan kumis lebat itu
kemudian mencoba mencari tahu alamat sang debitur kepada para pemuda yang
sedang nongkrong disebuah deker pinggiran jalan.
Setelah menyebutkan nama orang yang dicarinya. Salah seorang
dari pemuda itu segera bangkit. Ia kemudian mencoba menuntun Andre untuk pergi
ke suatu tempat.
Tepat di sebuah warung pisang goreng, pemuda itu memberi
aba-aba agar Andre berhenti. Ia kemudian mempersilahkannya untuk pergi ke dalam
warung tersebut.
Setelah itu sang pemuda langsung pergi begitu saja, tanpa
sempat Andre bertanya kembali dan mengucapkan terima kasih.
Sedikit ragu, Andre segera menuju ke dalam warung tersebut.
Setibanya di dalam, Ia langsung memesan seporsi pisang goreng. Bukan maksud
untuk berbelanja, tetapi sekadar basa-basi biar urusannya sedikit mudah.
Lama Ia menikmati santapannya, tanpa sepatah kata keluar
dari mulutnya. Seperti hendak mencari waktu yang tepat untuk bertanya. Hingga
akhirnya, "Ibu kenal dengan bapak Samsul?"
Ibu yang sedang asik menggoreng itu, seketika menghentikan
aktifitasnya. Matanya menoleh ke arah Pria asing yang baru saja mengucapkan
sesuatu hal yang mungkin sedikit diketahuinya.
Melihat Ibu yang diam saja, Andre kembali mengulang
pertanyaan yang sama.
Karena tidak asing dengan nama itu disebut, seketika saja
raut wajah wanita dengan rambut terikat dan separuhnya sudah berwarna putih
menjadi berubah. "Mas darimana?" Pandangannya gelisah, berusaha
menduga maksud dan tujuan Pria asing dihadapannya.
"Dari kota, Bu." Andre menjawab dengan terus
terang. Mencoba menghindari basa-basi yang berkelanjutan. Apalagi saat melihat
ekpresi wanita didepannya sedikit berubah.
Tidak lama selepas Andre menjawab, Wanita itu langsung saja
beranjak tanpa berbicara lagi. Sontak membuat suasana menjadi sedikit canggung.
Melihat tingkah wanita separuh baya itu menjadi aneh, segera
saja Andre menepi ke pinggiran jalan. Sambil dirinya terus berjaga. Menanti apa
yang sedang dilakukan wanita pemilik warung pisang tadi.
Sesekali mata Pria dengan pakaian ala Debt Collector itu
mengintip ke sisi warung. Berharap menemukan wanita tadi.
Tidak berselang lama Wanita itu terlihat sedang keluar dari
sebuah rumah. Ia kemudian berjalan kembali kedalam warungnya.
Melihat wanita itu sudah kembali, dengan cepat Andre
mengikuti masuk ke dalam. Maksud untuk membayar pesanannya tadi, tiba-tiba saja
wanita menyuruh Andre untuk masuk kedalam rumah yang ia datangi tadi.
"Bapak Samsul yang kamu cari sedang ada di dalam.
Silahkan saja masuk!" Mendengar perkataan wanita itu barusan, sontak
membuat Andre sedikit terkejut.
"Saya istrinya, dan itu suamiku." Wanita itu coba
memberi tahu, setelah melihat Andre yang berdiri kebingungan.
"Oh, iya-iya, Bu. Terima kasih." Dengan sigap
Andre segera berjalan keluar, dan memutari warung melalui pintu samping halaman
rumah. Tidak lupa Ia membayar makanan dahulu.
Di dalam rumah telah menunggu seorang lelaki dengan setelan
kaos gantung putih serta sebuah sarung pengganti celana.
"Silahkan masuk, Mas," ucap lelaki tadi melihat Andre
yang sudah berdiri di depan pintu.
Tidak berselang lama, wanita penjual tadi datang lagi. Kali
ini dia datang membawa sebuah nampan berisi sepiring pisang goreng dan dua
gelas kopi hitam.
"Silahkan diminum, Mas." Usai mengatur nampan di
atas meja, Wanita itu segera kembali. Seolah tidak mau terlibat dalam
pembicaraan suaminya.
Melihat kopi yang tersaji, seketika Andre mengingat kembali
pesan-pesan temannya terdahulu.
Matanya menatap sekilas ke arah makanan dan minuman yang ada
di meja, seperti mencari sesuatu yang aneh. Barangkali ada ajimat yang terselip
di dalam gelas maupun piring tadi.
"Ayo, jangan dilihat saja, Mas. Silahkan dicicipi
dulu," ucap lelaki itu seraya menyeruput kopi bagiannya.
Karena tidak berani menyentuh sajian yang diberikan kepadanya,
maka langsung saja Andre menjelaskan tujuan kedatangannya. Berharap perhatian
pemilik rumah teralihkan dan tidak tersinggung dengan tingkahnya.
Setelah berjabat tangan, keduanya pun berpisah dengan
hangat. Tidak lupa Andre berpamitan kepada Wanita tadi di warungnya.
Kali ini Ia pulang menggunakan motor yang berhasil dibawanya
itu.
Andre benar-benar merasa sangat bahagia, sebab semua
rencananya berjalan dengan lancar. Yah, walau masih dihantui dengan sedikit
perasaan takut. Namun, ia terus berusaha menepisnya.
Tidak ada penolakan. Seolah lelaki itu sadar dengan
kesalahannya. Dengan ikhlas Ia merelakan motor satu-satunya dibawa oleh Debt
Collector.
Besoknya, setiba di kantor, Andre mendapat banyak pujian
dari teman-temannya.
Tidak lupa Andre berterima kasih, berkat semua saran yang
diterimanya, Ia jadi terhindar dari malapetaka kampung Sageri.
Karena berhasil, Ia diberikan komisi yang lumayan besar
serta cuti selama 1 minggu.
Waktu cuti tersebut ia manfaatkan untuk pulang ke kampung
halamannya.
Tepat jam 2 dini hari. Andre dikejutkan dengan rasa perih
yang luar biasa di bagian perutnya. Ia meringkuk kesakitan. Suaranya terasa
tersekat, bahkan untuk berteriak meminta tolong pun Ia tidak mampu.
Setelah beberapa saat menahan diri dari perih yang Ia
rasakan. Akhirnya perasaannya kembali sedikit lega. Namun, perasaan itu tidak
berlangsung lama. Kembali Ia merasakan sesuatu hendak keluar dari lubang anusnya.
Dengan cepat Ia berlari menuju toilet. Mendengar kegaduhan
yang Andre timbulkan, membuat Ayahnya segera terbangun.
Malam itu Andre benar-benar merasakan sesuatu yang begitu
aneh. Saat hendak mengeluarkan kotoran dari dalam perutnya, tiba-tiba saja hal
yang tidak disangka terjadi. Bukannya kotoran, melainkan pasir yang sangat
banyak jatuh bercucuran ke lubang kloset.
Melihat hal itu, membuatnya semakin panik. Sambil menunggu
pasir yang keluar berhenti, Ia mencoba mengingat-ngingat lagi kejadian yang
dilaluinya 2 hari lalu. Barangkali ada sesuatu yang telah dilanggarnya.
Setelah merasa pasir yang keluar sudah tidak ada lagi, Ia
segera menuntaskan buang hajatnya. Pikirannya tadi segera ditepikannya dahulu.
Ayahnya yang telah terbangun, kemudian mendatangi kamar anak
tercintanya itu. Di dapatinya Andre sedang tergolek lemah sambil terus memegangi
perutnya yang kembali terasa sakit.
Melihat Ayahnya, Andre kemudian menangis sejadi-jadinya.
Berharap Ia segera dapat ditolong.
Ayahnya yang melihat tingkah laku aneh Andre, segera
mendekatinya. Seraya menenangkan anaknya tersebut.
Laki-laki tua itu mencoba mengusap kepala buah hatinya,
sambil mencoba mencari tahu penyebab anak terkasihnya itu kesakitan.
Andre yang tak mampu lagi berbicara, hanya bisa memberi
isyarat tentang sesuatu yang aneh sedang menimpanya. Ia mengambil pergelangan
tangan Ayahnya, seraya memindahkan ke bagian perutnya yang sakit.
Betapa terkejutnya lelaki tua itu, saat menyentuh kulit
perut anaknya yang sudah berubah menjadi keras, layaknya serpihan papan.
Merasa sesuatu yang ghaib sedang terjadi, langsung saja
lelaki tua itu membangunkan istrinya. Memberi tahu kalo malam itu mereka akan
segera pergi.
Malam itu juga, sambil tergopoh-gopoh, Andre di bopong oleh
Ayahnya untuk pergi berobat ke tempat orang pintar di sekitatan kampung.
"Anak bapak terkena santet," ucap Mbah Dukun yang
mengobati Andre.
"Penyakit ini kiriman dari orang Sageri," lanjut
Mbah Dukun sambil terus membaca mantranya, seolah sedang menerawang kejadian
yang telah dilewati Andre.
Sambil meringis kesakitan, Andre seperti tidak percaya
dengan perkataan Mbah Dukun barusan. Sebab, Ia sudah benar-benar yakin tidak
mencicipi apa-apa semenjak berada di Sageri.
"Sebuah pisang? Pisang goreng?" Lagi Mbah Dukun
terus menerawang, seperti ingin meyakinkan penyebab lelaki muda di hadapannya
itu sampai bisa terserang santet.
Mendengar kata pisang, Andre kemudian teringat, kalo sebelum
masuk ke dalam rumah itu, Ia sempat memakan pisang goreng di warung milik istri
Pak Samsul.
Saat itu juga Ia langsung menyesali kebodohannya. Dirinya
tidak menyangka jika wanita itu telah memasuki santet ke dalam jualannya. (Bano. K)